Mungkin tampaknya mengherankan bahwa misi pertama Tarekat di luar tanah Prancis hampir saja gagal. Akan tetapi jika Anda mengikuti dengan saksama, justru sebaliknya yang akan terjadi sungguh lebih mengejutkan. Sebenarnya segalanya yang terjadi bisa disimpulkan bahwa komunitas Watertown ini hanya akan sanggup bertahan semalam. Penyebab utamanya adalah pilihan atau kemauan para biarawan untuk pendirian misi ini. Tidak diragukan lagi bahwa semuanya adalah orang-orang suci. Akan tetapi rahmat tidak pernah menghancurkan kodrat. Dan, seperti yang telah kami sebutkan, pemilihan Pastor Joseph Durin sebagai superior pertama Watertown tidak terlalu bijaksana. Ia baru tinggal di sebuah komunitas selama lebih dari dua tahun. Kepribadiannya yang keras dan karakternya yang agak sulit dan otoriter, hal ini tidak menjadikannya cocok untuk mendirikan sebuah komunitas dengan ciri utamanya adalah harmoni. Selain itu, bertepatan dengan dua peristiwa yang menyedot semua energi Pendiri dan para penasihatnya yakni pengusiran dan tawaran misi pertama ke luar negeri, dimana hal ini berdampak pada komunitas Watertown.
Perlulah membaca Missio ad Gentes, 1881, karya Pastor Jean Bertolini guna melihat bagaimana masalah Watertown ini sebenarnya tidak terlalu menjadi perhatian utama dibanding dengan dua fakta di atas yang tampaknya mengancam kelangsungan hidup Tarekat MSC.
Apa yang akan terjadi pada komunitas kecil ini bila para religiusnya diusir dari seluruh penjuru Eropa dan dunia? Apa yang akan terjadi pada Misionaris Hati Kudus bila kita tidak dapat menanggapi tawaran Takhta Suci untuk mengambil alih Misi Auckland dan kemudian, beberapa tahun kemudian, Misi Papua Nugini? Oleh karena itu, mudah dipahami bahwa perhatian Pendiri Tarekat lebih terfokus pada masalah-masalah mendesak demikian daripada peduli pada kesulitan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Watertown. Perlu ditambahkan pula bahwa dengan sangat cepat rumah di Watertown hanya menjadi semacam tempat persinggahan, stasi transit bagi para rohaniwan dalam upaya mereka mencari peluang menjadi anggota keuskupan. Daftarnya panjang, berisi para Misionaris Hati Kudus yang tidak stabil, mengalami kesulitan, atau sederhananya meninggalkan Tarekat, dengan hanya singgah saja di Watertown. Mengirim mereka ke Amerika adalah cara termudah untuk menjauhkan mereka dari negara atau komunitasnya di mana kehidupan menjadi mustahil bagi mereka. Tetapi, sebagai imbalannya, komunitas Watertown-lah yang dirusak. Barulah kemudian kami memahami sedikit lebih baik alasan peringatan keras dari Pastor Durin dan sebagian besar penerusnya di Watertown. Maka sulitlah, butuh waktu yang lama, untuk membangun kehidupan komunitas dan karya yang otentik dikarenakan kedatangan dan kepergian yang terus-menerus silih berganti, yang tampaknya akan menyebabkan proyek komunitas apa pun namanya pasti gagal.
Pastor Célestin Ramot telah ditunjuk sebagai Superior Komunitas Watertown untuk menggantikan Pastor Joseph Durin. Ia tiba pada tanggal 14 Juli 1881 bersama Pastor Charles Giraux dan Bapak Fernand Durin, mantan novis MSC dan keponakan Pastor Durin. Pastor Ramot, bukanlah tipe orang yang suka melebih-lebihkan. Ia hanya bisa mencatat keadaan yang menyedihkan dari suksesi yang menjadi tanggung jawabnya ini. Dalam suratnya kepada para calon biarawan di Belanda, ia menggambarkan apa yang ditemukannya di Watertown: “Ini sedikit kacau: pastor, vikaris, biarawan/biarawati, Asosiasi Bunda Hati Kudus, Karya Kecil, novisiat, calon biarawan/biarawati… semuanya bercampur di rumah yang sama.
Anda mengerti bahwa dibutuhkan pikiran yang lebih unggul dari saya untuk menciptakan dunia yang sempurna dengan semua tumpukan karya yang bertabrakan ini. Bila roh Allah telah menyertai semua kekacauan ini, Dialah yang akan mengatur semuanya…”
Pastor Ramot adalah Superior Komunitas Watertown selama 10 tahun. Beberapa pemulihan dimulai, dengan hasil yang menggembirakan. Bukan berarti tiba-tiba Watertown menjadi surga abadi. Tetapi, setidaknya, suasananya tidak lagi kacau seperti semula, dan sekarang tampaknya mungkin untuk membangun sesuatu dilandasi oleh sebuah tim. Dua karya utama yang harus diajungkan jempol kepada Pastor Ramot adalah kebangkitan Sekolah Apostolik dan pengorganisasian sebuah sekolah. Pada tahun 1885, dirasa perlunya dibangun sebuah perguruan tinggi di samping pastoran karena pastoran tersebut tidak lagi dapat menampung baik mahasiswa, novis, skolastik, komunitas dan staf paroki. Masa depan kini mulai tampak lebih menarik bagi para Misionaris Hati Kudus di Amerika. Tanda dari pembaharuan ini adalah penahbisan seorang imam Misionaris Hati Kudus pertama yang lahir di Amerika yakni Pastor Pierre L’Espérance pada tanggal 8 Desember 1888.
Tidak lama setelah kedatangan Pastor Célestin Ramot ini, beberapa konfrater dari Eropa datang untuk bergabung dengan tim kecil Watertown; beberapa untuk bekerja di paroki, yang lain melanjutkan studi mereka sebagai skolastik atau mengajar di Sekolah Apostolik dan di Skolastikat, beberapa juga untuk menjalankan masa novisiat mereka di sana. Dengan demikian, antara tahun 1881 dan 1891, tidak kurang lebih dari 9 Misionaris Hati Kudus, 7 imam dan 2 bruder, belum lagi termasuk calon imam dan novis, datang dari Eropa untuk bekerja di Watertown. Akan tetapi orang yang menyeberangi Samudera Atlantik dengan hati paling gembira adalah Pastor Jean-Baptiste Chappel, yang tiba di Watertown pada tanggal 14 September 1882 bersama dengan Pastor Fernand Hartzer. Sekarang setelah Pastor Joseph Durin pergi, Pastor Chappel tidak meminta apa pun selain datang dan meninggal di antara mereka yang telah menyambutnya pada tahun 1875. Adapun Pastor Hartzer, ia adalah Direktur Sekolah Apostolik dari tahun 1882 hingga 1883 sebelum kembali ke Prancis dan lalu berangkat lagi ke misi Melanesia dan Mikronesia.
Perguruan Tinggi atau Kolese yang dipugar oleh Pastor Ramot berfungsi sebagai Perguruan Tinggi komersial dan Sekolah Apostolik. Dengan demikian, pada tahun 1889, terdapat hampir 45 siswa, termasuk sekitar tiga puluh di Perguruan Tinggi dan 13 orang sedang mempersiapkan diri untuk kehidupan religius dan imamat mereka. Adapun komunitas kita terdiri dari 4 imam, yakni Pastor Célestin Ramot sebagai superior, bendahara dan pembimbing novis; Benjamin Grom sebagai pastor paroki; Cornelius O’Mahony dan Pierre L’Espérance, vikaris dan profesor di Perguruan Tinggi dan di Skolastikat ada 5 skolastik, nama mereka adalah Patrick McCarron, Oswald Bentley, Zéphirin Péloquin, Daniel Lehane dan Frédéric Borman, serta 1 novis yakni Andrew Johnson. Setelah 15 tahun kerja keras dengan krisis yang tidak berkesudahan, hasilnya layak untuk dihargai. Sementara itu Pastor Célestin Ramot menyadari bahwa karya di Watertown ini sangat rapuh. Jarak dari pusat-pusat kota bisnis merupakan kendala utama bagi perekrutan dan perluasan Tarekat di Amerika. Pada 1890, melihat berakhirnya masa jabatannya yang ketiga sebagai Superior Watertown makin mendekat, ia mulai mempertimbangkan dengan serius untuk mendirikan tempat tinggal lain di luar Watertown, yang lebih disukainya di wilayah bagian New York. Ia menulis surat kepada beberapa uskup termasuk Uskup Trenton di New Jersey. Pastor Chevalier sendiri sedikit mendorongnya dalam proyek ini karena Dewan Umum, mulai Juli 1890, tengah mempertimbangkan untuk mengirim para skolastik Prancis ke Watertown atau tempat lain agar mereka terhindari dari wajib dinas militer yang lamanya 3 tahun.
Pada Oktober 1890 Pastor Célestin Ramot membuat pilihannya: Komunitas MSC kedua di Amerika Serikat akan berada di Hammonton, New Jersey. Kota kecil berpenduduk sekitar 8.000 jiwa ini, yang terletak di tengah-tengah antara dua kota yakni Philadelphia dan Atlantic City, tampak baginya sebagai tempat yang ideal untuk sebuah novisiat. Terlebih lagi, ia memiliki rencana yang sangat tepat, yang diumumkannya dalam sebuah surat tertanggal 10 Oktober 1890. Bahwa lahannya yang luas itu mau dijual; kita akan membelinya. Gereja tampaknya terlalu kecil; kita akan membangun gereja yang lebih besar. Lebih dari itu, Hammonton akan menjadi pusat utama peziarahan Bunda Hati Kudus.
Namun apa yang terjadi? Pada tanggal 26 Desember 1890 Pastor Ramot harus berangkat ke Prancis untuk mengikuti Kapitel General. Inilah yang akan menjadi akhir dari proyek Hammonton. Karena Pastor Ramot bukan hanya tidak akan kembali ke Amerika Serikat, setelah diangkat menjadi Superior Glastonbury, di Inggris, tetapi juga pada tanggal 3 Februari 1891 Dewan Umum “menolak proyek pendirian di Hammonton karena keuntungan dari proyek ini amat diperdebatkan, dan selain itu kita tidak memiliki orang-orang yang diperlukan buat proyek tersebut.” Pastor Benjamin Grom, yang dipanggil Pastor Ramot ke Hammonton untuk menggantikannya selama ketidakhadirannya, akan melakukan segala yang dia bisa buat selama setahun untuk menyelamatkan proyek tersebut. Akan tetapi ternyata tiada keputusan yang berubah. Dewan Umum menolak untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka. Akhirnya Pastor Benjamin Grom kembali ke Watertown menjelang akhir Desember 1891.
Kemudian hari, dengan cukup cepat, kami mulai memperhatikan ada semacam stagnasi di Watertown. Bukan berarti anggota komunitas ini tidak cukup bersemangat dalam melaksakanan pekerjaan mereka. Justru sebaliknya. Jika ada kritik yang dapat ditujukan kepada mereka, itu memang karena mereka telah melangkah terlalu jauh, mencoba mencapai dengan tim kecil apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab komunitas yang lebih besar. Sebab tidak boleh dilupakan bahwa selain paroki, ada sekolah filsafat dan teologi, novisiat, perguruan tinggi bisnis, Sekolah Apostolik, Annals of Our Lady of the Sacred Heart, Archconfraternity of Our Lady of the Sacred Heart dan tanggung jawab atas sejumlah besar pelayanan di daerah sekitar Watertown termasuk Evans Mills, Adams, Belleville, Felts Mills, Leraysville, Rutland, Rosiere, La Fargeville dan Redwood. Dan untuk melakukan semua pekerjaan ini, antara tahun 1890 dan 1900, kelompok Misionaris Hati Kudus di Watertown tidak pernah melebihi jumlah 8 imam dan 3 bruder. Jumlah sebanyak itu hanya terjadi tiga kali pada tahun 1893, 1894, dan 1896. Selain itu, beberapa anggota komunitas merasa, seperti Pastor Célestin Ramot sebelumnya, bahwa Misionaris Hati Kudus harus meninggalkan Watertown jika mereka ingin memastikan kelangsungan hidup mereka di Amerika. Jadi, pada tahun 1896 sebuah rumah didirikan di Mercer, di Keuskupan Erie, Pennsylvania, “mempertimbangkan […] bahwa Watertown membutuhkan cabang untuk menyediakan supply kebutuhan bagi warganya, bila perlu, perubahan tempat tinggal, perubahan iklim.” Uskup Keuskupan Erie telah mempercayakan Paroki All Saints di Mercer kepada Misionaris Hati Kudus. Suatu waktu komunitas tersebut memiliki 4 imam dan 1 bruder. Pastor Frédéric Derichemont, yang sebelumnya pernah bekerja di Quito, Ekuador, adalah satu-satunya superior. Masa hidup rumah ini hanya berlangsung 4 tahun. Pada tahun 1900, rumah tersebut akhirnya ditutup. Dari lima Misionaris Hati Kudus yang bekerja di sana, yaitu Pastor Frédéric Borman, Frédéric Derichemont, Denis O’Mahony, Daniel Lehane dan Bruder Richard Thomas Robinson, tidak satu pun yang tetap berada di dalam Tarekat alias meninggalkan Tarekat MSC.
Beberapa bulan sebelum Komunitas Mercer ditutup pada tahun 1899, Pastor Daniel Lehane ditunjuk ke Natick, Rhode Island, untuk mengambil alih paroki St. Joseph yang baru saja dipercayakan uskup kepada para Misionaris Hati Kudus. Pastor Zéphirin Péloquin datang untuk bergabung dengannya di sana beberapa waktu kemudian. Paroki ini menjadi karya pertama di luar Watertown, yang memperoleh sukses besar. Para Misionaris Hati Kudus bekerja di sana hingga Juli 1989. Selagi pendirian-pendirian baru dicoba di tanah Amerika, komunitas dan karya-karya Watertown mengalami kemunduran. Pada tahun 1900, hanya tersisa 3 imam: Pastor Pierre L’Espérance, Cornelius O’Mahony dan Étienne Royet. Meskipun beberapa skolastik dan awam dapat diandalkan untuk memberikan pengajaran di perguruan tinggi, diketahui bahwa waktu sepenuhnya hampir habis untuk Sekolah Apostolik. Terutama karena jumlah siswa menurun dari tahun ke tahun, hingga mencapai segelintir siswa. Pada tahun 1905, mereka terpaksa menutup pintu Sekolah Apostolik St. Joseph. Hampir pada waktu yang sama, Annals of Our Lady of the Sacred Heart juga berhenti diterbitkan. Kemudian dimulailah periode panjang “low profil” bagi komunitas Watertown dan Natick, semacam hibernasi (musim dingin) yang meskipun demikian tetap berbuah, terutama bagi Provinsi MSC Kanada.
Sebelum membalik halaman periode sejarah kita ini, penting untuk mencatat tiga fakta yang tidak dapat disangkal memberikan pengaruh yang menentukan bagi perkembangan Komunitas Watertown. Pertama, keragaman asal-usul para saudara yang datang ke Amerika Serikat. Dari tahun 1875 hingga 1910, 58 Misionaris Hati Kudus tinggal di Watertown: 43 imam, 9 bruder, dan 6 calon biarawan. Dari jumlah tersebut, 19 orang Prancis, 12 orang Amerika, 7 orang Belanda, 6 orang Irlandia, 5 orang Kanada, 5 orang Jerman, 2 orang Italia, 1 orang Inggris, dan 1 orang Swiss. Total 8 kewarganegaraan yang berbeda! Meskipun seseorang telah berjanji untuk berjuang menuju kekudusan, ada keadaan yang terkadang dapat menghambat perjalanan menuju kesempurnaan Injil. Keragaman etnis yang berlebihan dalam kelompok kerja dan hidup seringkali menjadi salah satu penyebabnya.
Fakta kedua, yang telah dilaporkan, yang pastinya telah mengecewakan harapan terbaik, adalah perpindahan beberapa pastor muda dengan kecepatan luar biasa. Watertown dengan cepat menjadi gerbang menuju Amerika Serikat, suatu keharusan bagi saudara-saudara Eropa yang bermimpi meninggalkan Tarekat dan pergi bekerja di keuskupan Amerika. Dari 43 imam yang bekerja di Watertown antara 1875 dan 1910, 21 berpindah ke klerus keuskupan Amerika, hampir setengah dari staf. Kita lebih memahaminya ketika mereka yang tetap tinggal merasa selalu harus memulai dari awal.
Akhirnya, ketiadaan total bruder yang berkaul kekal di Watertown amat menghambat lajunya karya komunitas muda tersebut untuk mengandalkan staf yang stabil yang dapat memastikan semacam transisi selama periode-periode sulit dan bahkan krisis. Selama 35 tahun pertama Watertown, ada 9 Bruder pembantu bekerja di sana. Tidak satu pun yang mengucapkan kaul kekal. Seperti yang kita lihat, para bruder yang dengan kaul kekal kini tengah memainkan peran yang terlalu penting di wilayah bagian Kanada, sehingga kita tidak bisa tidak menyadari bahwa ketidakhadiran mereka di Watertown justru membuat hampir mustahil untuk mendirikan sebuah pendirian komunitas yang layak dengan cepat.
Kanada berbahasa Prancis.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana pada tahun 1873, Pastor Jean-Baptiste Chappel tidak akan pernah sampai ke Watertown. Kanada, seperti yang telah kita lihat, adalah negara tempat Pater Pendiri ingin agar Tarekat kecilnya didirikan. Keadaan mengharuskan Pastor Chappel ditunjuk untuk pergi ke Toronto. Apa yang akan terjadi jika, sejak awal, dia dan Bruder Henri Dechâtre mendarat di Quebec, Montreal, atau Ottawa? Atau lagi, di mana kita akan berada hari ini jika para saudara yang dikirim ke Toronto benar-benar menguasai dwibahasa? Tetapi sejarah tidak ditulis dari anggapan. Yang kita ketahui adalah bahwa pendirian Watertown tidak membuat kita melupakan Kanada, dan khususnya Kanada berbahasa Prancis. Kami sangat tahu di Issoudun bahwa, terlepas dari kemunduran yang dialami di Toronto, Kanada tetap menjadi negeri yang ramah dengan penduduk yang siap membantu para Misionaris Hati Kudus, jika pengusiran atau wajib militer tiga tahun yang terkenal itu, yang ingin dihindari oleh para skolastik Prancis, memaksa mereka meninggalkan wilayah Prancis.
Pada akhir tahun 1896, masuk dalam agenda Dewan Umum adalah rencana pendirian sebuah karya Tarekat MSC di Kanada, kemungkinannya di Montreal. Sidang Umum tanggal 5 Januari 1897 berlangsung lagi. Kami telah menulis surat kepada Superior Sulpisian di Montreal dan kepada Pastor Cornelius O’Mahony dari Watertown untuk menanyakan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Menjelang akhir Januari, Pastor Derichemont dan O’Mahony, masing-masing superior dari Mercer yang di Pennsylphania State dan Watertown yang di New York State, akhirnya mengunjungi Montreal untuk rencana mendirikan sebuah rumah bagi para skolastik Prancis di sana.
Tanggal 22 Februari 1897 Sidang Umum memperhatikan laporan yang dikirim oleh kedua Pastor tersebut: “Dari surat ini tampaknya bahwa negosiasi hanya dapat dimulai setelah kedatangan uskup baru yang berikut, karena keuskupan [di Montreal] saat ini lagi kosong.” Tanggal 21 Pada Oktober 1897, uskup agung baru Montreal, Uskup Napoleon Bruchési sedang berada di Paris. Pastor Eugene Meyer sebagai sekretaris jenderal menghubungi beliau untuk kemungkinan pendirian misi di Montreal. Namun, uskup, karena berbagai alasan, termasuk adanya penolakan terhadap para Misionaris Hati Kudus yang berasal dari masa kepemimpinan Pastor Jean-Baptiste Chappel sebelumnya, menolak untuk memberikan izin mendirikan rumah religius di keuskupannya. Tetapi ia akan dengan senang hati menerima para calon biarawan di Seminari Tinggi-nya. Di Issoudun mereka tidak menganggap hal itu pantas untuk ditindaklanjuti. Selain itu, karena situasinya semakin mendesak, kami segera menghubungi Uskup Agung Quebec. Surat dari Pastor Chevalier kepada Monseigneur Louis-Nazaire Bégin, tertanggal 16 November 1897, menjelaskan alasan kemungkinan pendirian komunitas di Quebec:
“Monsignur, Yang Mulia mengetahui aturan militer, yang diberlakukan oleh Pemerintah Prancis, agar mengirim para biarawan muda ke barak selama tiga tahun. Ini adalah kehancuran panggilan; kami telah memiliki pengalaman yang menyedihkan. Aturan tersebut memberi kebebasan kepada kaum muda yang belum berusia 19 tahun untuk beremigrasi ke luar Eropa selama sepuluh tahun. Setelah waktu ini berlalu, mereka dapat kembali ke tanah air mereka, tanpa perlu khawatir; mereka hanya perlu menjalani wajib militer 2 x 28 hari, seperti kaum lelaki sebaya mereka.
Ketahuilah, Monsignur, karena kecintaan Anda yang besar terhadap Gereja dan keinginan Anda untuk melindungi panggilan, kami datang untuk memohon kebaikan Anda yang luar biasa dan hati Anda yang amat mencintai Prancis, meminta Anda agar mengizinkan kami membawa para biarawan muda kami ke Quebec, tunduk pada hukum militer, untuk mengikuti kursus filsafat, teologi, dan hukum kanon di universitas Anda yang terkenal, yang sangat terorganisir dengan baik. Satu atau dua Pastor kami akan menemani mereka. Di Quebec, mereka berbicara bahasa Prancis; kaum muda kami tidak perlu mempelajari bahasa asing, yang selalu sulit. Atas saran Monsignur Laflamme, rektor Universitas Laval, kami mengajukan permintaan ini kepada Yang Mulia.
Saya berharap kami akan dengan mudah menemukan di kota, dekat universitas, dengan harga terjangkau, sebuah rumah untuk koloni kecil kami. Tentu saja, saya akan menanggung semua biaya pemeliharaan dan lainnya.
Ini atas nama karya kami di Prancis, tiga Vikariat kami di Oceania, yang sangat membutuhkan rasul, dan Bunda Maria Hati Kudus, yang sangat terkenal dan dicintai di keuskupanmu yang indah, saya memberanikan diri untuk menyampaikan permintaan sederhana ini kepada Anda.
Dengan harapan bahwa Anda sudi mengabulkan, saya menaruh sembah bakti di hadapan Yang Mulia sudi memberkati dan menyetujui permohonan dari saya yang amat menghormatimu dalam kasih Yesus Kristus. J.Chevalier, Superior General MSC.”
Tanggapan Uskup Agung Quebec sangat positip. Maka diputuskan bahwa Pastor Paul Carrière, Asisten Jenderal, akan pergi ke Quebec sesegera mungkin untuk memeriksa kemungkinan pembukaan sebuah sekolah di sana. Karena Dewan Umum berpendapat bahwa paling lambat bulan September 1898, rumah baru ini harus dalam kondisi siap untuk menerima para biarawan muda asal Prancis. Namun, pada pertemuan tanggal 12 dan 13 Januari 1898, Dewan Umum, melalui pemungutan suara rahasia, menunda proyek Quebec. Meskipun demikian, pada musim panas tahun 1898, setelah melakukan kunjungan kanonik ke rumah-rumah di Watertown dan Mercer, Pastor Carrière datang menemui Uskup Agung Quebec, baik untuk berterima kasih atas kebaikannya yang besar atas nama Pastor Chevalier dan untuk memastikan bahwa otorisasi yang diberikan untuk membuka sebuah sekolah di Quebec akan dipertahankan bahkan sekalipun proyek ini harus ditunda beberapa bulan atau tahun. Pada tanggal 4 Juli 1898, Pastor Carrière menulis kepada Uskup Bégin demikian:
“Monsignur, baru saja kembali ke Prancis dari perjalanan saya ke Amerika, saya segera memberitahukan kepada Pastor Chevalier, Superior Jenderal kami yang terhormat, tentang tanggapan baik yang Yang Mulia sampaikan kepada saya mengenai proyek yang telah beliau rancang untuk mengirim beberapa biarawan muda ke Universitas Quebec, dengan tujuan melindungi mereka dari kewajiban dinas militer sambil memastikan studi teologi dengan baik dan tekun. Pater Pendiri dan Dewan beliau sangat terharu akan hal ini, dan mereka meminta saya untuk sekali lagi menyampaikan kepada Yang Mulia rasa terima kasih mereka yang mendalam dan penuh hormat.
Jika keadaan sulit benar-benar memaksa, Tarekat akan melakukan semua pengorbanan yang diperlukan untuk mewujudkan rencana tersebut dengan segera, namun ada alasan lain, di mana saya merasa terhormat untuk menyampaikan hal itu kepada Yang Mulia, yang tampaknya menghendaki kami harus menunda rencana, untuk beberapa waktu, akibat tindakan pemerintah, yang saat ini hendak merampas harta milik kami di dataran Eropa yang amat kami perlukan. Penangguhan ini membuat kami harus merenungkan masa depan dan terpaksa mempersiapkan diri terlebih dahulu untuk mewujudkan pekerjaan yang direncanakan.
Sambil menunggu, kami senang dapat mengandalkan kemurahan hati Anda dan orang sekitar Anda yang terhormat, serta mengetahui bahwa pada hari ketika kehendak Ilahi memaksa kami harus mencari perlindungan di kota keuskupan Anda, Yang Mulia akan siap membukakan pintu bagi kami. […]”
Pada tanggal 18 Juli 1900, Dewan Umum memutuskan bahwa tindakan pemerintah tidak lagi memungkinkan mereka untuk menunda proyek ini, yang telah dipersiapkan selama hampir tiga tahun. Waktunya telah tiba bagi beberapa skolastik untuk berangkat ke Quebec. Pastor John Field diangkat sebagai superior dari rumah baru tersebut, mulai menjabat pada tanggal 1 Oktober 1900, dan Pastor Jean-Baptiste Guillarme, sebagai Socius. Beberapa hari sebelumnya, pada tanggal 12 Juli, Pastor Paul Carrière telah menulis surat kepada Uskup Agung Quebec untuk memberitahukan tentang kedatangan pertama para Misionaris Hati Kudus di Quebec:
“Yang Mulia, dua tahun yang lalu, Yang Mulia berkenan mengizinkan kami untuk mendirikan sebuah rumah di Quebec bagi para biarawan muda kami yang, untuk menghindari kesulitan serius akibat hukum militer, ingin pindah dan mengikuti perkuliahan di Universitas kota keuskupan Anda. Insya Allah, kami sejauh ini telah berhasil menghindari kesulitan yang ditimbulkan oleh hukum. Namun saat ini tampaknya perlu untuk melaksanakan proyek yang direncanakan pada waktu itu. Oleh karena itu, kami berencana untuk mengirim salah satu Pastor Pembantu kami, R. P. Meyer, ke Quebec, pada awal Agustus, yang akan mempersiapkan semuanya untuk awal Oktober mendatang. Kami ingin percaya bahwa dari pihak Yang Mulia tidak akan ada kesulitan yang muncul, yang merupakan hambatan bagi keinginan yang telah Anda setujui dengan sedemikian hangatnya. […]”
Beberapa baris yang ditulis di dalam surat oleh Monseignur Bégin, membuka lebar pintu bagi Misionaris Hati Kudus di Quebec. “Misionaris Hati Kudus kembali membawa orang muda religius mereka ke Quebec untuk mengikuti kelas teologi di sana. Diterima pada 23 Juli 1900. Jawaban pada hari yang sama -Ya-”
Pada tanggal 6 Agustus 1900, Pendiri kembali menulis kepada Uskup Agung Quebec untuk mengumumkan kedatangan Pastor Eugene Meyer, calon Superior Jenderal, yang misi utamanya adalah mencari rumah untuk menampung para skolastik di Quebec: “Monsignur, saya bergegas datang dan berterima kasih kepada Yang Mulia atas sambutan baik yang Anda berikan terhadap permintaan yang saya sampaikan kepada Anda. Salah satu Asisten dari Tarekat kecil kami berangkat hari ini ke Quebec untuk pertama-tama menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Anda secara pribadi dan untuk mengurus instalasi para saudara muda kami yang harus mengikuti kursus di Universitas Anda yang terkenal. [..]”
Dan terjadilah, Pastor Eugene Meyer tiba di Quebec sekitar pertengahan Agustus. Ia sangat diterima dengan hangat di Keuskupan Agung Quebec dan beberapa imam dari seminari kecil dan besar membantunya menemukan tempat tinggal yang dapat berfungsi sebagai sekolah. Rumah yang disewa Pastor Meyer terletak di 12 rue des Carrières, di bawah bayang-bayang Château Frontenac, tidak jauh dari Terrasse Dufferin. Rumah itu milik janda Madame Charles-F. Langevin. Adapun Pastor Field, ia mendarat di Quebec bersama calon biarawan Joseph Caspar, tanggal 20 September 1900, untuk melakukan persiapan terakhir sebelum menjadi skolastik. Ia pasti sangat kecewa mendapati rumah yang disewa Pastor Meyer. Karena, jika rumah itu berukuran layak untuk sebuah keluarga, ternyata akan menjadi kotak kaleng sarden sungguhan bagi komunitas yang terdiri dari 13 orang penghuninya.