
“Setiap orang menghidangkan anggur yang baik terlebih dahulu.”
(Yohanes 2:10)
Untuk menarik manusia agar mengabdi kepadanya, dunia memulai dengan janji-janji yang memikat. Dunia menawarkan kenikmatan, kehormatan, kekayaan, dan segala sesuatu yang tampaknya dapat memuaskan hati manusia. Pada awalnya, semuanya terlihat indah dan menggembirakan.
Namun, seperti anggur yang baik yang disajikan lebih dahulu, pesona dunia tidak berlangsung lama. Harapan mulai memudar, kesenangan berganti dengan kesedihan, dan kegembiraan berubah menjadi kekecewaan. Apa yang semula tampak menjanjikan akhirnya meninggalkan kehampaan.
Betapa menyedihkan nasib mereka yang hanya menggantungkan hidup pada dunia. Mereka terus mengejar sesuatu yang tidak mampu memberikan kebahagiaan yang bertahan. Karena itu, marilah kita bersikap bijaksana. Jangan menghakimi mereka, tetapi kasihanilah mereka dan doakan mereka.
Renungan
Berapa banyak hal duniawi yang pernah saya kejar dengan penuh semangat, tetapi akhirnya tidak memberikan kedamaian yang saya harapkan? Apakah hati saya lebih melekat pada dunia atau kepada Tuhan?
Allah tidak memulai dengan janji-janji manis. Ia terlebih dahulu memperlihatkan jalan salib.
Yesus berkata:
“Barangsiapa mau menjadi murid-Ku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.”
(Matius 16:24)
Jalan mengikuti Kristus bukanlah jalan yang mudah. Ada perjuangan melawan dosa, pengendalian diri, kesetiaan dalam tugas, pengorbanan, dan kesabaran dalam penderitaan. Kadang-kadang jalan itu dipenuhi duri dan air mata.
Namun Allah tidak berhenti pada salib. Ia menjanjikan rahmat-Nya yang mencukupi. Ia menopang setiap langkah kita dengan kasih-Nya. Dan ketika kita setia kepada-Nya, Ia memenuhi hati kita dengan damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia.
Karena itu Santo Paulus dapat berseru:
“Aku melimpah dengan sukacita di tengah segala penderitaanku.”
Sungguh, Hati Yesus begitu baik. Ia meminta pengorbanan, tetapi Ia memberikan sukacita yang jauh lebih besar daripada apa pun yang kita korbankan.
Renungan
Apakah saya melihat salib sebagai beban yang harus dihindari, atau sebagai jalan menuju persatuan yang lebih mendalam dengan Kristus?
Ketika saat terakhir kehidupan tiba, apa yang tersisa dari kekayaan, kehormatan, dan kenikmatan dunia?
Tidak ada.
Semuanya berlalu seperti bayangan. Harta tidak dapat menemani kita. Popularitas tidak dapat menyelamatkan kita. Kesenangan dunia tidak dapat memberikan hidup kekal.
Bagi mereka yang hanya hidup untuk dunia, yang tersisa sering kali hanyalah penyesalan dan kesadaran bahwa mereka telah mengejar sesuatu yang sementara.
Namun berbeda dengan para sahabat Allah. Mereka meninggalkan dunia dengan hati yang damai. Mereka membawa serta iman, kasih, dan segala kebajikan yang telah mereka hidupi. Mereka memandang surga dengan penuh harapan dan meninggalkan dunia tanpa penyesalan.
Pada akhirnya, hanya satu pertanyaan yang penting:
Kepada siapa saya ingin menjadi milik?
Kepada dunia yang berlalu, atau kepada Hati Kudus Yesus yang tetap tinggal untuk selama-lamanya?
Doa
Ya Hati Kudus Yesus,
sering kali aku tergoda oleh janji-janji dunia yang tampak indah dan menyenangkan. Ajarlah aku untuk melihat segala sesuatu dengan terang-Mu. Berilah aku keberanian untuk memikul salib setiap hari, setia dalam tugas-tugasku, dan tetap berharap kepada-Mu dalam setiap pencobaan.
Jangan biarkan hatiku terikat pada hal-hal yang fana. Semoga aku mencari Engkau di atas segalanya, sehingga ketika saat perjumpaanku dengan-Mu tiba, aku dapat meninggalkan dunia dengan damai dan masuk ke dalam sukacita abadi bersama-Mu.
Sumber: Jules Chevalier, Meditasi, Volume I, hlm. 174-176.

Bagian III Jubileum 150 Tahun MSC di Amerika Serikat

Mungkin tampaknya mengherankan bahwa misi pertama Tarekat di luar tanah Prancis hampir saja gagal. Akan tetapi jika Anda mengikuti dengan saksama, justru sebaliknya yang akan terjadi sungguh lebih mengejutkan. Sebenarnya segalanya yang terjadi bisa disimpulkan bahwa komunitas Watertown ini hanya akan sanggup bertahan semalam. Penyebab utamanya adalah pilihan atau kemauan para biarawan untuk pendirian misi ini. Tidak diragukan lagi bahwa semuanya adalah orang-orang suci.

Dunia mula-mula menawarkan kesenangan, tetapi kemudian menghadirkan kekecewaan. Allah justru memperlihatkan salib dan pengorbanan terlebih dahulu, namun akhirnya memberikan sukacita sejati. Pada saat kematian, dunia akan meninggalkan kita, tetapi Allah tetap tinggal untuk selama-lamany

Keberangkatan Pastor Jean-Baptiste Chappel, yang didampingi Bruder Henri Dechâtre, dari pelabuhan Le Havre di Prancis menuju ke benua baru Amerika di Toronto wilayah Kanada, pada tanggal 31 Juli 1873, bukanlah suatu yang kebetulan.

Paus Leo XIV secara resmi menunjuk Mgr. Walter Erbi sebagai Nunsius Apostolik (Duta Besar Takhta Suci) untuk Republik Indonesia. Pengangkatan tersebut diumumkan oleh Kantor Pers Takhta Suci pada Rabu (1/7/2026), sekaligus mengakhiri masa kekosongan jabatan setelah Mgr. Piero Pioppo dipindahkan menjadi Nunsius Apostolik untuk Kerajaan Spanyol pada November 2025.

VATIKAN – Sebuah kabar membanggakan datang bagi Gereja Katolik Indonesia. Paus Leo XIV secara resmi menunjuk Uskup Agung Ende, Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, sebagai Anggota Dikasteri untuk Evangelisasi