Di Usia 94 Tahun, Romo Lambertus Somar Tetap Berziarah: Ditandu Umat Menuju Gua Maria Melung
BANYUMAS – Usia lanjut tidak menghalangi Romo Lambertus Somar, MSC untuk tetap menjalani peziarahan iman bersama umat. Di usia 94 tahun, imam sepuh tersebut mengikuti rangkaian ziarah ke sejumlah tempat devosi Maria di wilayah Banyumas, Jawa Tengah.
Romo Lambertus Somar
Seperti diberitakan HidupKatolik.com, perjalanan peziarahan tersebut berlangsung pada 16–18 September 2026 dan menjadi pengalaman iman yang tidak hanya menghadirkan suasana doa, tetapi juga memperlihatkan kuatnya semangat persaudaraan di antara umat dan para imam MSC.
Rangkaian perjalanan diawali pada Rabu malam, 16 September 2026, di Gua Maria Kaliori, Banyumas. Rombongan mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Patris Jeujanan, MSC.
Keesokan harinya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gua Maria Melung, yang berada di kawasan lereng Gunung Slamet. Medan perjalanan yang cukup menantang membuat perjalanan tersebut membutuhkan tenaga dan kebersamaan dari seluruh peserta.
Romo Somar, yang kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan jauh, mengikuti perjalanan dengan menggunakan tandu. Sejumlah umat secara bergantian mengangkat tandu tersebut dan membawa Romo Somar menuju tempat doa.
Menurut laporan HidupKatolik.com, suasana tersebut justru menjadi salah satu pengalaman paling menyentuh dalam peziarahan. Romo Somar tampak tetap tersenyum dan menyapa umat yang membawanya. Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan iman tidak selalu harus dilakukan dengan kekuatan sendiri.
Salah seorang peserta, Agnes Sri Wirjanto, mengungkapkan bahwa awalnya mereka merasa sedang membantu Romo Somar. Namun, dalam perjalanan tersebut, mereka justru merasa mendapatkan kekuatan dari keteguhan imam sepuh itu.
“Awalnya kami melihat Romo Somar yang harus ditandu. Tetapi lama-kelamaan justru kami merasa bahwa Romo Somar yang menguatkan kami,” ujar Agnes, sebagaimana dikutip HidupKatolik.com.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut membuat dirinya dan peserta lainnya belajar bahwa dalam kehidupan iman, setiap orang memiliki saat ketika harus ditopang oleh orang lain.
Bagi Agnes, tandu yang digunakan Romo Somar juga memiliki makna simbolis. Dalam perjalanan kehidupan, seseorang tidak selalu mampu berjalan dengan kekuatannya sendiri. Ada waktunya seseorang menerima pertolongan, dan pada kesempatan lain dipanggil untuk memberikan pertolongan kepada sesama.
Peziarahan kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi di Kapel Melung yang dipimpin oleh Romo Hans Ngala, MSC bersama Romo Patris Jeujanan, MSC. Sebelum kembali ke Jakarta pada Jumat, 18 September 2026, rombongan terlebih dahulu mengikuti Perayaan Ekaristi di Katedral Purwokerto bersama Romo Wahyudi, MSC dan Romo Patris Jeujanan, MSC.
Peziarahan yang Mempertemukan Generasi
Lebih dari sekadar perjalanan menuju tempat-tempat doa, peziarahan tersebut juga menjadi sebuah perjumpaan lintas generasi dalam keluarga besar Missionarii Sacratissimi Cordis Jesu (MSC).
Romo Lambertus Somar, MSC hadir sebagai sosok senior yang telah melewati perjalanan panjang dalam pelayanan dan kehidupan religius. Sementara itu, di sekelilingnya hadir para imam MSC yang meneruskan pelayanan dan spiritualitas Hati Kudus Yesus.
Romo Lambert Somar bersama Rombongan Peziarah
Karena itu, sebagaimana tergambar dalam laporan HidupKatolik.com, perjalanan tersebut dapat dilihat sebagai gambaran sederhana tentang kesinambungan iman dan karisma MSC dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, pesan yang paling kuat dari perjalanan tersebut
bukanlah mengenai seberapa jauh seseorang mampu berjalan. Justru, pengalaman Romo Somar memperlihatkan bahwa dalam kehidupan beriman, ada kalanya seseorang harus bersedia menerima bantuan dari orang lain.Romo Somar mungkin berada di atas tandu, tetapi kehadirannya justru memberikan pelajaran kepada para peziarah yang mendampinginya. Keterbatasan fisik tidak serta-merta mengakhiri semangat seseorang untuk terus mendekat kepada Tuhan.
Perjalanan di Gua Maria Melung akhirnya menjadi gambaran tentang kasih yang bekerja secara nyata. Mereka yang masih memiliki kekuatan membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Sebaliknya, mereka yang ditopang pun dapat memberikan kekuatan melalui kesaksian hidupnya.
Pengalaman tersebut mengingatkan pada perkataan Rasul Paulus dalam Surat Kedua kepada Jemaat di Korintus: “Sebab dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna.” (2Kor 12:9).
Peziarahan Romo Lambertus Somar, MSC pada usia 94 tahun menjadi sebuah kesaksian sederhana bahwa perjalanan menuju Tuhan tidak selalu harus ditempuh dengan langkah kaki sendiri. Ada kalanya kita berjalan, ada kalanya kita ditopang, dan ada kalanya kita dipanggil untuk menopang sesama.
Selama semuanya dijalani dalam kasih dan iman, setiap perjalanan tetap memiliki arti di hadapan Tuhan.
Usia lanjut tidak menghalangi Romo Lambertus Somar, MSC untuk tetap menjalani peziarahan iman bersama umat. Di usia 94 tahun, imam sepuh tersebut mengikuti rangkaian ziarah ke sejumlah tempat devosi Maria di wilayah Banyumas, Jawa Tengah.
Sejak penahbisannya pada tahun 1909, P. François Bourrin selalu mendukung usaha pembukaan Sekolah Apostolik di Beauport, wilayah Quebec, negara Kanada. Sebaliknya P. Barral tidak berpendapat demikian. Beauport seharusnya tetap saja menjadi tempat Novisiat.
engusung tema “Berakar dalam Hati Kudus, Bersatu dalam Persaudaraan, Diutus untuk Misi,” Musda tahun ini dihadiri oleh para imam, diakon, dan bruder MSC. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pater Anselmus Jamlean, MSC, yang mewakili Provinsial MSC Provinsi Indonesia.