Setiap Tarekat atau Ordo hidup berdasarkan semangat (spirit) dan karisma Pendiri serta menerima suatu tugas perutusan (misi) melalui Gereja. Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa tugas perutusan adalah esensial bagi setiap lembaga hidup bakti: “Tugas untuk membaktikan diri sepenuhnya pada misi tercakup dalam panggilan mereka. Memang berkat karya Roh Kudus, yang adalah sumber setiap panggilan dan karisma, hidup bakti itu sendiri adalah misi, seperti seluruh hidup Yesus. Pengikraran nasihat-nasihat injili, yang membebaskan seseorang sepenuhnya untuk mengabdi kepada Injil, dari sudut pandang itu penting juga. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa rasa keterutusan (sense of mission) adalah dimensi hakiki bagi setiap Tarekat, bukan saja bagi mereka yang membaktikan diri untuk hidup aktif merasul, melainkan juga bagi mereka yang menjalani hidup kontemplatif.”
Tawaran Bermisi
Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), yang kala itu merasa belum mempunyai cukup anggota dan kemampuan memadai untuk bermisi ke luar negeri, ditawari oleh Takhta Suci, melalui surat tertanggal 25 Maret 1881, untuk mengemban misi di luar Eropa, yakni di Vikariat Melanesia dan Mikronesia, khususnya Nugini. Setelah banyak konsultasi dan pertimbangan, bersama Dewan Umumnya Pater Chevalier menanggapi positif permohonan tersebut. Bagi Pater Chevalier pemilihan tanggal 25 Maret adalah providensial dan signifikan, seperti dinyatakannya dalam jawaban positif kepada Kardinal Simeoni. Itulah hari ketika Maria memberi kabar kepada Elisabet tentang Inkarnasi Sang Sabda, hari ketika Maria menyatakan kesiapsediaannya untuk menjadi Bunda Tuhan.
Bagi MSC itulah hari istimewa ketika Gereja menawarkan Misi Ad Gentes untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus; itulah hari ketika MSC menerima janji Tuhan untuk menyertai mereka senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:19-20). Itulah hari ketika Tarekat MSC bergerak keluar mewartakan sukacita Injil kepada bangsa-bangsa lain dengan mengambil langkah pertama, terlibat dan mendukung, berbuah dan bersukacita.
Penerimaan misi ini merupakan wujud dari wawasan misioner dari Pater Chevalier. Ia menggunakan isilah ‘misi’ dalam arti luas yakni “keterutusan kepada mereka yang membutuhkan, untuk membawa kepada mereka harta kekayaan cinta dan belas kasih Hati Kristus.” Dari banyak kemungkinan nama, seperti Imam-Imam Hati Kudus, ia berupaya untuk mengungkapkan wawasan misioner pada karismanya. Ia memilih “Tarekat para Misionaris Hati Kudus Yesus” (Societas Missionariorum Sacratissimi Cordis Jesu – MSC) bagi lembaga religius yang baru. Demikian, ia mengungkapkan suatu aspek khusus pada karismanya sendiri, yakni dimensi misioner.
Bagi Chevalier sangatlah penting untuk memahami siapa yang mengutus, yakni Yesus sendiri, yang bersabda: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21). Ia menulis: “Yesus adalah Misionaris pertama Hati-Nya. Ia yang pertama untuk memperkenalkan kepada manusia cinta-Nya bagi mereka. Di mana-mana, selalu, dalam setiap tindakan-Nya ia peduli pada misi yang hendak dipenuhi-Nya di bumi.
Surat Resmi Kardinal Simeoni
Tonggak sejarah misi ditorehkan kepada Tarekat MSC ketika, sesudah komunikasi panjang melalui pertemuan-pertemuan dan surat menyurat antara Vatikan dan Tarekat MSC, pada tanggal 25 Maret 1881 Vatikan mengajukan permohonan resmi agar Tarekat MSC menerima misi baru di Vikariat Melanesia dan Mikronesia.
Dalam buku Catatan Harian Pater Jules Chevalier tanggal 25 Maret 1881 disebutkan: “Kongregasi Penyebaran Iman secara resmi menawarkan kepada MSC dua Vikariat yaitu Melanesia dan Mikronesia.”
Pierre Barral mencatat: “Pada hari ini Pater Superior menerima permohonan resmi dari Kardinal Simeoni dan dari Takhta Suci mengenai misi Perancis Baru dan Nugini. Pater Superior membacakannya kepada kami pada saat rekreasi malam.”
Surat itu berbunyi:
Pater yang terhormat,
Selama beberapa tahun Vikariat Nugini kosong menanti suatu komunitas religius yang bersedia untuk mengurusnya. Takhta Suci menaruh perhatian mendalam pada wilayah penting ini, yang tidak mempunyai misi Katolik, sementara itu lebih dari seorang pendeta protestan sedang menyebarkan kekeliruan-kekeliruannya di sana. Sadar akan semangat besar dari anda dan para anggota Kongregasi anda untuk penyebaran agama kita, kami akan menghargai dengan senang hati bilamana anda menerima karya kerasulan yang luas ini. Saya sungguh menghargai kenyataan bahwa realisasi rencana ini akan memakan waktu dan kesabaran.
Namun, untuk saat ini, hal ini hanyalah menyangkut pengiriman beberapa imam Kongregasi anda; sementara Kongregasi anda memikul tanggung jawab untuk orang-orang Katolik yang ada di Koloni Perancis Baru yang sudah terbentuk, pada saat yang sama mereka dapat mempelajari jalan-jalan dan cara-cara untuk membentuk Misi di wilayah-wilayah tersebut, dan juga untuk melayani seluruh Vikariat, yang sekarang kosong, sebagaimana saya telah sampaikan, untuk waktu yang sangat lama.
Saya cukup yakin bahwa anda akan bersedia menyetujui usulan yang disampaikan kepada anda di sini, dan sambil menantikan suatu jawaban positif, saya menyampaikan berkat dalam Tuhan.
Roma, Istana Propaganda, 25 Maret 1881.
Penuh hormat,
Giovanni Kardinal Simeoni,
Prefek Masotti, Sekretaris
Yang Terhormat Pater Pemimpin Umum Kongregasi Misionaris Hati Kudus, Issoudun.
Nada surat tersebut bersifat mendesak disebabkan oleh pelayanan Katolik yang sudah lama terabaikan karena ketiadaan misionaris. Vatikan berharap agar Kongregasi MSC mengabulkan permohonan ini. Surat tersebut tiba di Issoudun pada 29 Maret 1881.
Misi di Nugini dan Harapan Gereja
Sebelumnya, pada 1844, Kongregasi Penyebaran Iman telah menyerahkan misi Nugini kepada Kongregasi-Kongregasi lain, seperti Tarekat Maria (Society of Mary atau Marist) dan Lembaga untuk Misi Asing dari Milan (Institute for Foreign Missions of Milan). Tetapi mereka mengakui ketidakmampuan mereka untuk mengirimkan tenaga misionaris ke misi tersebut dan bahkan telah memutuskan untuk menarik diri dari pelayanan di Nugini.
Dengan menawarkan misi ini kepada Tarekat MSC Gereja berharap agar pelayanan tidak akan gagal dan buah-buah pertobatan dan iman kepada Tuhan Yesus dihasilkan. Juga disadari bahwa misi ini tidaklah mudah, butuh kerja keras, kesetiaan, banyak pengorbanan, bahkan tuntutan nyawa.
Pada 24 Maret 1881 Pater Victor Jouët, yang ditugaskan di Roma sebagai Prokurator MSC untuk mengurus hal-hal berkaitan dengan Tarekat MSC dan Vatikan, mengirim surat kepada Pater Chevalier di Issoudun memberitahukan bahwa misi Nugini telah secara resmi ditawarkan pada Kongregasi kecil MSC.
“Pater Superior yang terhormat,
Hari Minggu lalu saya menerima panggilan mendesak dari Kardinal Simeoni, kembali pada persoalan misi. Takhta Suci sangat prihatin tentang Nugini, pulau terbesar di dunia, yang belum dikunjungi oleh seorang imam Katolik selama dua puluh lima tahun, dan di sana sudah ada banyak tempat-tempat protestan. Namun, stasi-stasi protestan ini hanya ada di bagian pantai; mereka hampir tidak ada jejak di bagian dalam. Bapa Suci ingin agar dua atau tiga Misionaris Hati Kudus, paling banyak tiga orang, pergi ke tanah buas ini untuk sedikit mengekplorasi, mempelajari cara-cara mendirikan misi, belajar sedikit bahasa, lalu memberikan laporan tentang usaha apostolik mereka yang sederhana. Apabila kita mati tanpa mencapai apa-apa, hal itu akan menjadi suatu hal kecil yang dibayarkan untuk keuntungan-keuntungan yang diperoleh.
Itulah yang dikatakan oleh Kardinal kepada saya pada hari Minggu, dan dia menambahkan bahwa cara praktis untuk memulai di Nugini belum pernah lebih mudah, syukur atas Koloni Cape Breton ini yang mempunyai kapal-kapal dan tenaga yang siap untuk para misionaris pertama. Yang Mulia menyampaikan kepada saya bahwa Bapak Suci telah memberi mandat untuk secara langsung menyurat kepada anda dan meminta pengorbanan yang murah hati dari tiga misionaris anda, kepada siapa Hati Kudus dan Gereja akan sangat berterima kasih….
Saya tidak tahu bagaimana anda akan menjawab, tetapi setelah banyak berpikir saya sangat yakin tentang hal itu – kita tidak dapat menolak. Beberapa Pater dan murid kita memilih Tarekat kita karena mereka berharap pada suatu hari akan ambil bagian dalam kerasulan di suatu tanah primitif dan kafir. Apabila Allah sedang memanggil kita, jumlah yang ingin pergi akan menjadi lebih besar daripada yang dicari oleh Bapa Suci. Dari pihak saya, saya sangat bersedia apabila anda menginginkan saya, dan saya sedang melakukan apa saja untuk menstabilkan komunitas kecil kita di sini, supaya anda akan dapat menempatkan orang lain menggantikan saya dan menggunakan saya di mana pun anda kehendaki.
Bapa Suci menaruh minat sangat besar kepada kita dan anda dapat melihat hal ini dalam surat-surat yang saya lampirkan untuk dipublikasikan dalam Annals.” Besok Sekretaris Propaganda menunggu saya untuk memberikan kepada saya lebih banyak hal khusus, yang saya akan segera teruskan kepada anda….”
Jouët juga menulis: “Saya mengadakan dua wawancara yang panjang dengan Yang Mulia Kardinal Simeoni, yang sangat gelisah untuk mengetahui bahwa kita menerima misi Nugini yang indah dan luas serta pulau-pulau sekitarnya. Propaganda tidak mengharapkan hasil dan pertobatan yang cepat segera setelah kita menginjakkan kaki di Oceania. Sebaliknya, kita diminta untuk mengemban tugas kerasulan di suatu tanah kafir yang tidak diperhatikan sejak 1854….”
Pada awalnya Pater Chevalier dan beberapa anggota Dewan Umum berharap agar misi di Auckland, Selandia Baru, yang hendak dipercayakan kepada MSC pada 1879, akan diserahkan lagi kepada para MSC, setelah Uskupnya, Mgr Steins, meninggal dunia. Pada 11 Februari 1881 Pater Chevalier menulis kepada Pater Jouët: “Menurut majalah Univers, Uskup Steins dari Kepulauan Auckland telah meninggal dunia. Apakah anda berpikir bahwa misi ini akan dipercayakan lagi kepada kita? Apakah memang ada manfaatnya? Pater Navarre meyakinkan saya bahwa P. Deidier akan berangkat dengan senang hati dan saya juga yakin bahwa Pater Navarre sendiri bersedia dan juga Pater Giraux dan dua skolastik. Bagaimana pendapatmu?”
Pada hari yang sama ini, di Barcelona, Verjus mencatat di Journal-nya: “Wilayah Auckland sudah di tangan (depan mata)! Kerinduan saya mulai berbuah! Studi saya berjalan lancar. Pater Superior (Deidier) meyakinkan saya bahwa tidak lama lagi akan ada orang yang berangkat ke Pulau-Pulau yang jauh ini; hanya dengan demikian Tarekat akan bertumbuh; dan untuk memahkotai semuanya mereka sedang membahas promosi saya ke Tahbisan Suci.”
Lalu pada 15 Februari 1881 Verjus, yang terus mengikuti perkembangan misi di Nugini, menulis: “Pada malam ini saya baru saja mendengar berita baik. Uskup yang baik dari Auckland meninggal dunia dan di Issoudun mereka sedang berpikir tentang seseorang untuk misi portfolio ini. Entah Pater Superior (Deidier) atau Pater Marie! Keduanya ingin mengajakku! Ya Allahku, alangkah terlalu besar rasa gembira ini!.”
Namun, harapan bahwa situasi akan berpihak pada MSC dan misi Auckland akan menjadi “sumber rahmat bagi Tarekat” tidak menjadi kenyataan. Dalam rekreasi pada 26 Februari 1881 Pater Chevalier memberitahu tentang kabar dari Roma sebagai berikut:
“Karena dua belas Benediktin berangkat bersama dengan Uskup Steins, maka kepada imam-imam ini Misi tersebut diserahkan. Kardinal Simeoni menawarkan kepada kita Nugini, suatu negara yang dua kali lebih luas dari Perancis dan sampai sekarang sangat sedikit diekplorasi; sudah lama daerah ini tidak mempunyai seorang Vikaris Apostolik, dan hanya ada dua imam dengan kuasa yang sangat terbatas; beberapa waktu lalu mereka telah pergi.”12
Mereka yang ada bersama dengan Pater Chevalier akhirnya belajar bahwa misi Nugini-lah yang diusulkan sebagai tujuan misi pertama dari Tarekat yang masih muda dan sedang bergumul ini. Misi ini merupakan bagian dari vikariat Melanesia dan Mikronesia yang luas, yang dibentuk pada 1844, dan sempat dilayani oleh Tarekat Maria (Marist) dan Lembaga Misi Asing Milan (Institute for Foreign Missions of Milan) sampai tahun 1854.
Dengan penerimaan misi tersebut oleh Tarekat MSC harapan Gereja agar iman tersebar dan pelayanan pastoral tersedia secara menetap di wilayah yang sangat luas itu dapat diwujudkan. Dari sana dimensi misioner Tarekat MSC, khususya misi ad gentes (kepada bangsa-bangsa lain) semakin nyata, berkembang dan menjangkau banyak tempat di muka bumi ini.
Peran Don Giovanni Cani
Patut disebutkan di sini inisiatif dan jasa dari Don Giovanni Cani dari Keuskupan Imola, Italia. Ia diutus untuk bekerja di Vikariat Apostolik Queesland, yang dibentuk pada 1876. Ia menaruh minat pada misi di Nugini. Pada 1879 ia pergi ke Roma dan menyerahkan suatu laporan pribadi kepada Kongregasi Propaganda Fide. Pada 26 April 1879 beliau antara lain menyampaikan kepada Kardinal Simeoni:
“Selama beberapa tahun saya secara teliti mengikuti berita dan perkembangan tentang Nugini dengan harapan untuk menemukan di sana suatu tempat yang menjanjikan untuk Misi…. Berita yang paling signifikan dari seorang Katolik, yang jatuh sakit di hutan di Nugini…. Ia menawarkan diri untuk mendampingi saya apabila saya terdorong untuk pergi mengunjungi mereka.”
Kemudian Pater Cani menyampaikan bahwa ia telah menerima informasi yang sangat berharga dari mereka yang mencari tempat misi. Ia juga melukiskan secara rinci penduduk, cara dan praktik hidup, keramahan, desa dan rumah, makanan, panen, keahlian, senjata berburu dan memancing. Juga, digambarkannya tentang karya para misionaris Protestan serta pengaruh mereka terhadap kaum pribumi. Ia menyimpulkan bahwa para warga Papua sangat terbuka pada pewartaan Injil. Ia pun
sangat optimis tentang prospek misi Katolik. Tanpa mengabaikan kesulitan-kesulitan yang ada ia pun mendesak supaya fondasi Katolik dapat diletakkan. Ia menulis ke Propaganda di Vatikan:
“Walaupun ada bahaya-bahaya yang mungkin timbul, namun mengingat pentingnya upaya ini maka saya sendiri memutuskan untuk menyapa Propaganda segera setelah saya yakin akan kondisi-kondisi dan kualitas-kualitas yang baik dari orang-orang Papua. Karena alasan-alasan tersebut dan demi kesejahteraan rohani dari orang-orang miskin, ada kebutuhan untuk upaya misioner, jika hal ini dimungkinkan. Sekurang-kurangnya ada orang yang mulai mengeksplorasi tempat-tempat untuk menemukan hal-hal yang bisa menguntungkan, agar dapat mempresentasikan kepada Kongregasi Propaganda perincian lebih tepat dan bukti yang lebih meyakinkan, dan oleh karenanya membenarkan suatu harapan akan keberhasilan dari Misi Katolik. Bahkan apabila tahun ini belum ada hasil apa-apa, selain mempelajari lebih lanjut tentang kemampuan dan disposisi orang-orang Papua, namun akan sangat bermanfaat untuk memperoleh rasa hormat mereka dan mendorong beberapa orang untuk pergi ke Australia untuk belajar agama dan ketrampilan-ketrampilan dagang, agar mereka dapat mengajar orang-orang mereka sendiri.”
Kardinal Simeoni menindaklanjuti dengan menulis surat pada 12 Juni 1879 ke Dewan Pusat Propaganda Fide di Lyons, untuk mengalokasikan dana untuk keperluan misi. Beliau, yang diangkat menjadi Pro-Vicar Queensland, bersama dengan seorang misionaris lain, telah diberi kuasa untuk mencari suatu tempat yang cocok di Nugini untuk misi Katolik. Bahkan Kardinal Simeoni telah berpikir untuk memisahkan Nugini dari Vikariat Apostolik Melanesia dan Mikronesia.
Dalam mempertimbangkan permohonan tersebut pada 13 Maret 1881 P. Jouët menulis kepada Pater Chevalier, antara lain: “Yang Mulia masih yakin bahwa Nugini akan menjadi tempat terbaik bagi kita untuk memulaikan misi. Saya sepenuhnya setuju.” Pada 19 Maret 1881 Pater Chevalier menyurat kepada Pater Jouët sambil menggambarkan garis besar prosedur yang perlu untuk menanggapi permohonan dari Takhta Suci. Pater Chevalier sendiri sudah punya ide untuk menjawab permohonan itu. Dari Issoudun pada 22 Maret 1881 ia menulis kepada Pater Piperon:
“Tiga pekan lalu Pater Jouët mengirimkan kepada saya usulan dari Kardinal Prefek Propaganda, atas nama Paus. Diharapkan agar kita akan menerima, walaupun masih secara prinsipiil, Misi Nugini dan Kepulauan Salomon, yang telah ditinggalkan sejak 1854 dan diserahkan kepada Protestan. Di daerah yang luas ini hanya ada satu imam Katolik dari Nantes; tahun lalu ia pergi sebagai kapelan dengan kapal yang membawa 150 pendatang Perancis, Belgia dan Alsace dengan harapan untuk mengolah Britania Baru, suatu pulau yang dekat dengan Nugini, yang akan berada dalam otoritas kita. Laporan dari imam ini sangat membesarkan hati; menurut dia, penduduk akan menyambut para misionaris.
Kardinal Simeoni sangat mendesak; katanya waktu telah tiba untuk kita bertindak; bahwa Penyelenggaraan Ilahi akan secara jelas menunjukkan jalan bagi kita; bahwa penganiayaan di Perancis bahkan akan menjadi lebih kejam dan bahwa kita akan mempunyai suatu wilayah baru,
dsb. Ia hanya meminta tiga imam dan setelah beberapa tahun kita bisa mengirimkan lebih, apabila kita mampu. Kita hanya akan melakukan apa yang dapat.
Hal yang hakiki adalah menerima dan mengenalkan bahwa Misi yang bagus ini ada dalam perlindungan Hati Kudus. Yang Mulia yakin bahwa penerimaan kita akan membawa banyak berkat besar dan banyak panggilan, walaupun sekarang menuntut sangat sedikit pengorbanan. Fiat! Ia menambahkan bahwa Propaganda akan memperoleh keuangan yang perlu untuk karya ini. Ia telah mengirimkan kepada saya sejumlah besar dokumen untuk dipelajari, agar saya dapat membiasakan diri dengan situasi.
Saya menjawab bahwa kita belum siap untuk Misi ini. Kardinal mengatakan bahwa hal itu menjadi keinginan Sri Paus, yang akan menjadi hakimnya dan akan segera menyampaikan keinginannya untuk menugaskan kita, demi kepentingan kita sendiri, pergi ke Misi yang bagus ini. Sebagaimana Kardinal mengingatkan kita, ini adalah tanda kepercayaan besar dari Bapa Suci. Apa yang harus kita lakukan? Pater Jouët mendesak kita untuk menerimanya. Salam dalam Hati Kudus.