Kobalt Utara

Keberangkatan beberapa konfrater menuju wilayah bagian barat Kanada, pada tahun 1908, adalah bukti bahwa dahaga akan perluasan dan diversifikasi karya yang mendekam di hati banyak kaum religius muda, yang sekarang tinggal di Quebec maupun di Beauport, sama sekali tidak padam. Orang terus bermimpi tentang alam bebas yang mega luas. Terutama karena Gereja di Kanada sedang mengalami tahun-tahun perkembangan yang pesat. Oleh karena itu, pesonanya menjadi lebih luar biasa lagi bagi para Misionaris Prancis dari Hati Kudus, yang bagi mereka luasnya wilayah daratan Kanada tampak seperti diperuntukan khusus bagi semboyan Ametur Ubique Cor Jesu.  Dari tanggal 30 September hingga 1 November 1909, diselenggarakanlah di ibukota Quebec Konlisi Umum pertama gereja Kanada. Semua uskup Kanada berpartisipasi di dalamnya. Kemungkinan besar, bahkan sangat mungkin, bahwa pada saat itulah Monsignur Élie Anicet Latulippe, Vikaris Apostolik Temiskaming, yang kemudian jadi Uskup Haileybury, berhubungan kontak dengan para Misionaris Hati Kudus di Jln Santa Ursula. (Nota Bene arsip: Surat dari Pastor Pierre L’Espérance kepada Dewan Umum, Juli 1912. Arsip Umum MSC, Roma. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perjalanan para Misionaris Hati Kudus di Qu’Appelle dan Medicine Hat, lihat: Gereja St. Patrick, 1887-1987, hlm. 71-79, buku kenang-kenangan yang diterbitkan pada kesempatan peringatan Seratus Tahun pendirian Paroki St. Patrick di Medicine).

Ia mengusulkan agar para misionaris datang untuk menetap di keuskupannya, lebih tepatnya di Cobalt Utara, guna membuka Perguruan Tinggi Ilmu Klasik dan Ilmu Ekonomi di sana, serta mendirikan sebuah paroki. Tidak butuh waktu yang lama hal tersebut menarik minat para konfrater yang tinggal di Quebec, terutama karena tampaknya tidak ada hambatan untuk menggabungkan Sekolah Apostolik ke Perguruan Tinggi Klasik dan Ilmu Ekonomi. Oleh karena itu semuanya diselesaikan dengan cepat. Pada tanggal 16 Mei 1910 P. Pierre Courbon berangkat ke Cobalt Utara, lalu beberapa minggu kemudian ia sudah bergabung dengan P. Mathieu Lagrevol yang mendampinginya.

Setelah tiba di Cobalt Utara, Pastor Courbon dan Lagrevol menyaksikan pendirian Paroki Bunda Hati Kudus dan dalam waktu yang tidak lama segera dimulai pembangunan Perguruan Tinggi, batu fondasinya diberkati pada tanggal 20 Agustus 1911. Catatan keuangan Cobalt Utara untuk tahun 1910 menunjukkan pinjaman dari paroki sebesar $7.000 dan catatan keuangan tahun 1911 menunjukkan pinjaman lain sebesar $16.413. Proses inflasi dimulai masa ini, yang akan kita bahas kembali, yang merugikan Perguruan Tinggi Cobalt Utara. St. Yosep College adalah nama Perguruan Tinggi yang berlokasi di Cobalt Utara, Ontario, Kanada.

Pada awal tahun 1912 Komunitas Cobalt Utara ini memiliki 4 pastor yang terdiri dari P. Courbon, P. Dépigny, P. Lagrevol, dan P. Marchal. Pembangunan Perguruan Tinggi selesai dibangun. Segala persiapan telah selesai untuk dimulainya Tahun Ajaran pada tanggal 10 September 1912. Pada tanggal 21 Juni 1912 Uskup Latulippe membacakan surat pastoral di semua gereja vikariatnya, yang mengumumkan pembukaan Tahun Ajaran Perguruan Tinggi St. Yosep di Cobalt Utara atau yang dikenal dengan Kolese St Yosep.

“Saudara-saudara terkasih, hari ini kami sangat gembira mengumumkan kepada Anda: apa yang begitu banyak diinginkan, apa yang begitu banyak dibutuhkan, kini telah terwujud. Kolese Katolik kita telah dibangun dan berdiri, dekat dengan kediaman kita, di Cobalt Utara, di lokasi yang, selain keindahan alamnya, memiliki keunggulan sebagai tempat kontemplasi yang dibutuhkan untuk kegiatan rohani. Namanya Kolese St. Yosep, dan kami telah mempercayakan pengelolaannya kepada para imam Misionaris Hati Kudus. Lembaga mereka, yang baru didirikan, yang menerima pujian dari Tahta Suci beberapa tahun yang lalu, yang mana mereka masih muda, namun unggul dalam segala jenis prestasi. Tinggal di Kanada selama dua belas tahun, mengenal dengan sungguh negara kita, karakter dan kebutuhan penduduk kita, oleh karena itu mereka lebih siap untuk memberikan kepada anak-anak Anda pendidikan yang sesuai untuk mereka. Kami memanggil mereka ke tempat kita, dua tahun yang lalu, dan selama masa ini kita dapat meyakinkan sendiri bahwa kita tidak dapat menemukan pendidik yang lebih mampu menanamkan dalam diri generasi muda, dasar prinsip-prinsip pengetahuan kemanusiaan, kebajikan-kebajikan kristiani yang mereka sendiri berikan – bahkan contoh yang baik bagi para klerus dan umat kita sekalian.”

 Sementara itu, di daratan Amerika Serikat, sebuah peristiwa penting, walau tidak memiliki dampak nyata, menandai sejarah Misionaris Hati Kudus. Pada tanggal 21 Mei 1910, rumah-rumah yakni Watertown di New York State Utara,  Natick di Rhode Island State, Onawa di Iowa State, dan Cazenovia di Wisconcin State, digabung seluruhnya menjadi satu Quasi-Provinsi. P. Pierre L’Espérance ditunjuk sebagai Pro Provinsial dengan para penasihatnya P. Zéphirin Péloquin dan P. John Quinn. Provinsi yang hampir goyah, tanpa masa depan ini, akan bertahan kurang dari dua tahun. Krisis terakhir, yang mengakibatkan pemindahan empat konfrater muda yang berkarya di wilayah Barat Tengah Amerika, yang berpindah masuk menjadi anggota klerus keuskupan, akan memaksa terjadinya penutupan rumah-rumah komunitas di Cazenovia dan Onawa. Jadi untuk menyelamatkan apa yang tersisa di tanah Amerika pada tanggal 17 Februari 1912, maka rumah-rumah di Quebec, Beauport, Cobalt Utara, Distrik Barat Laut (termasuk Qu’Appelle dan Medicine Hat), Watertown dan Natick digabung untuk membentuk Quasi-Provinsi Amerika Serikat plus Kanada, dengan P. Pierre L’Espérance sebagai pemimpinnya. Anggota Dewan Provinsi semula adalah P. Jean-Marie Rigaud dan P. Zéphirin Péloquin. Namun dalam menghadapi desakan para konfrater dari wilayah Quebec agar pemerintahan Provinsi mencakup jumlah anggota yang sama dari kedua bagian, Kanada dan Amerika, maka P. Yosep Dépigny diangkat menjadi anggota Dewan Provinsi pada tanggal 15 Mei 1912.

Bila kita berbicara tentang Kolese St. Yosep di Cobalt Utara, kita sering kali berpikir bahwa itu adalah proyek kecil, marginal, dan tidak penting. Namun kenyataannya sangat berbeda. Dalam beberapa tahun Cobalt Utara benar-benar menjadi pusat aktivitas di mana sebagian besar staf Tarekat di Kanada terkonsentrasi. Pada bulan September 1912 empat imam yang terdiri dari P. Louis Kopp, P. Yosep Marchal, P. Amédée Lacasse dan P. Émile Chaussende, bersama dua bruder yakni Br. Oscar Pinault dan Br. Edmond Germain, serta seorang skolastik, William O’Brien, menyambut 50 siswa, termasuk di antaranya 12 siswa dari Sekolah Apostolik. Ada juga 3 Misionaris Hati Kudus yang membagi waktu mereka antara paroki dan Perguruan Tinggi: P. Yosep Dépigny, P. Pierre Courbon dan P. Mathieu Lagrevol. Selain mengurusi Paroki Bunda Hati Kudus, mereka juga mengurus kapel yang ada di Kolese St. Yosep berfungsi sebagai bagian dari gereja paroki.

Konfrater kami mengupayakan banyak misi di wilayah utara yakni Ontario dan Quebec. Mereka juga bersiap untuk mengambil alih Paroki St. Hilarius dari Cobalt, yang akan dipercayakan kepada mereka selama tiga tahun pada tanggal 1 Oktober 1913. Untuk menjamin pemeliharaan umum kampus, dapur dan binatu, suster-suster dari Tarekat Keluarga Kudus Sherbrooke telah dipanggil pada bulan Mei 1912. Namun baru pada bulan September 1913 ada 6 biarawati dari Kongregasi ini datang untuk menetap di Kolese St Yosep. Mereka tetap berada di tempat tugasnya sampai Perguruan Tinggi tersebut ditutup pada tahun 1919.

Terlepas dari semua permasalahan yang akan kita analisis nanti, dapat dikatakan bahwa Kolese St. Yosep di Cobalt Utara telah berfungsi dengan baik sebagai rumah pengajaran dan sebagai Sekolah Apostolik. Sebab tidak boleh dilupakan bahwa 8 muridnya menjadi Misionaris Hati Kudus: Willie Caron, Edouard Haguette, Yosep Fortier, Yosep Baribeau, Xavier Caron, Michel Caron, Cyprien Fortin dan Antonio Arcand. Pada bulan Desember 1917, kolese ini memiliki jumlah mahasiswa 82 orang: 6 pastor (P. Emile Chaussende, P.Pierre Courbon, P. Yosep Cailler, P. Yosep Frappa, P. Louis Kopp, P. Louis Jourdon), 1 skolastik (Yosep Baribeau), 4 bruder (Br. Jean-Noel Arcand, Br. Ernest Demers, Br. Ernest Bernier, Br. Leon Nolet), 60 murid, 7 biarawati dan 4 dosen awam, tanpa terhitung P. Mathieu Lagrevol bertugas di paroki berbahasa Prancis St. Hilarius dan P. John A. Sullivan bertugas di paroki berbahasa Inggris St. Patrick. Pada saat penutupan Perguruan Tinggi ini pada Juni 1919, masih terdapat 7 imam, 1 skolastik, 3 bruder, 45 murid, 7 biarawati dan 2 dosen awam dari luar.  Jadi sebenarnya tidak ada kesulitan dari pihak intern pada penutupan fungsi Perguruan Tinggi ini pada tahun 1919. Perkara masalahnya adalah dari pihal lain, yang kompleks dan bervariasi.

Pertama-tama ada peran yang dimainkan oleh Uskup Élie-Anicet Latulippe, Vikaris Apostolik Temiskaming dan kemudian menjadi Uskup Haileybury. Pria ini yakin akan menjual lemari es kepada orang Eskimo’ maksudnya skill omongnya kelas dewa. Dikatakan bahwa tidak lama setelah penahbisannya sebagai uskup, ia mulai mengunjungi seminari-seminari besar untuk merekrut imam bagi keuskupan barunya. Ia memberikan pengaruh yang begitu besar pada para seminaris sehingga para uskup dengan sopan memberitahunya bahwa ia tidak diterima di seminari-seminari besar. Namun, Uskup Latulippe inilah yang bertemu dengan komunitas muda di Jln Santa Ursula. Kata-katanya memiliki efek seperti yang kita ketahui terlebih lagi karena cukup banyak dari mereka ingin melepaskan diri dari cengkeraman Pastor Maillard yang agak keras… Demikianlah sudah pasti bahwa komunitas Misionaris Hati Kudus tidak memiliki kartu ucapan terima kasih yang ditujukan kepada Uskup Latulippe. Karena setelah  mereka tertarik” ke Cobalt Utara, mereka menerima dengan sepenuh hati menjadi anggota imam keuskupan, segera setelah Perguruan Tinggi tersebut beroperasi dan terutama ketika tiba saatnya untuk dilikuidasi semuanya. Ia bahkan tidak memberi petunjuk dan membantu meringankan tugas mereka atau menemukan pembeli atau penyewa yang memungkinkan. Dalam hal ini, P. Maillard memiliki alasan yang kuat untuk mengeluh tentang sikap Uskup Haileybury ini. Bahwa Uskup Latulippe memang berbicara tentang “Perguruan Tinggi kita” dalam surat pastoralnya, tetapi satu-satunya jasanya adalah telah melemparkan kail ke sungai yang tepat dan menangkap ikan yang tepat… Utang menggila sebesar $55.000, yang terdiri dari $50.000 tanpa hipotek dan $5.000 dengan hipotek, yang ada selama pembangunan gedung Kolese St. Yosep, yang sebenarnya merupakan penyebab utama kegagalan Kolese Colbart Utara. Kami mencoba dengan segala cara untuk mengurangi jumlah utang yang sangat besar ini untuk sementara waktu. Bahwa selain Paroki Bunda Maria Hati Kudus di Cobalt Utara, para Misionaris Hati Kudus berhasil memperoleh Paroki St. Hilarius di Cobalt pada tanggal 1 Oktober 1913, dan paroki yang berbahasa Inggris St. Patrick di Cobalt, di mana Pastor John A. Sullivan menjadi pastornya dari tahun 1917 hingga 1919. Namun, pendapatan yang dihasilkan oleh ketiga paroki tersebut jauh dari mencukupi untuk menutupi defisit Perguruan Tinggi dan untuk mengembalikan sebagian modal pinjaman. Laporan keuangan tahun 1917, contohnya, menunjukkan kontribusi sebesar $800 dari Paroki St. Patrick sementara St. Hilarius menyumbangkan $683. Dana provinsi, sebagai bagian dari tanggungjawabnya, diharuskan membayar $2.700 dalam bentuk subsidi. Dan yang memperburuk masalah serta membuat situasi semakin genting adalah pembelian oleh para pastor dari Kolese St. Yosep yakni sebuah lahan pertanian luas di Guigues, di seberang Cobalt Utara, di seberang Danau Temiskaming, di wilayah Quebec. Kami pikir kami bisa mendapatkan kesepakatan yang baik dan membantu sekolah dengan menyediakan daging, susu, mentega, dan kentang. … Perkebunan seluas 1.021 hektar ini, termasuk 300 hektar yang tidak cocok untuk pertanian dan 600 hektar hutan belukar, semakin menambah utang karena produksi di sana masih defisit. Mungkin perlu dikatakan bahwa Pastor Pierre Courbon, yang mengawasi pembangunan Kolese St. Yosep dan tinggal di kantor administrasinya selama beberapa tahun, bukanlah seorang akuntan bersertifikat. Niat baik seringkali ternyata perlu membutuhkan sedikit akal sehat praktis.

Lokasi yang dipilih adalah wilayah Cobalt. Ini berisiko bagi sebuah pendirian proyek, seperti yang dialami oleh semua wilayah yang hanya menggantungkan diri pada industri atau sumber daya alam. Hingga hari ini (1989), di gerbang masuk Cobalt, ada sebuah tanda papan yang sudah miring oleng mengingatkan kita pada masa lalu: “Cobalt, kota yang dibangun dari perak.” Yang dilupakan orang adalah bahwa kota kecil tersebut saat ini dibangun di atas debu banyak proyek. Sesungguhnya, Cobalt dan wilayahnya tercipta karena sebuah ledakan besar. Petasan yang malangnya meledak di tengah kobaran api pada saat Uskup Latulippe mengusulkan kepada para Misionaris Hati Kudus untuk mendirikan sebuah Perguruan Tinggi di sana. Mereka bukanlah orang yang naif. Mereka bahkan bisa dibilang ceroboh. Karena apa yang terjadi di Cobalt pada tahun 1910 menunjukkan bahwa Ontario Utara benar-benar akan menjadi pusat industri dan komersial negara. Cukuplah dikatakan bahwa pada tahun 1904, Cobalt menghasilkan 206.875 ons perak, atau 0,12% dari produksi dunia. Pada tahun 1909, 31.507.791 ons diekstraksi, atau 12% dari produksi dunia. Perkembangan tambang yang spektakuler ini menyebabkan peningkatan populasi Kota Cobalt dan wilayahnya sangat cepat. Pada tahun 1908, ada 5.000 orang di sana, namun pada tahun 1915, menjadi 26.000. Bukan tanpa alasan kedudukan uskup pada waktu itu berada di Haileybury, beberapa kilometer dari Cobalt dan Cobalt Utara, sementara sekarang masih berada di Timmins, hampir 200 kilometer lebih jauh ke utara. Kemudian, hampir dalam semalam, akibat perang dunia, sianida mulai gagal memproses perak. Terlebih lagi, perak kehilangan banyak nilainya dan pengangkutannya ke Eropa menjadi sulit, bahkan mustahil. Inilah kehancuran bagi Cobalt dan wilayahnya. Inilah konteks ekonomi di mana para Misionaris Hati Kudus di Cobalt Utara berjuang mati-matian dari tahun 1910 hingga 1919.

Perlu juga diutarakan sebagai penyebab kesulitan besar adalah lokasi di mana Kolese St. Yosep berdiri. Kolese ini dibangun di lapangan terbuka, jauh dari semua fasilitas umum. Mungkin ini adalah “lokasi yang, selain keindahan alamnya, cocok untuk dijadikan tempat merenung yang dibutuhkan bagi kegiatan rohani”, mengambil kata-kata Uskup Latulippe. Tetapi tidak ada fasilitas penting yang gampang dijangkau bagi komunitas yang beranggotakan lebih dari 50 orang. Sejak awal berdirinya Perguruan Tinggi tersebut, muncul masalah air yang serius. Kuala Mill Creek, yang sebagian membatasi lahan, juga berfungsi sebagai pemasok air minum bagi Perguruan Tinggi tersebut. Sampai suatu hari tambang-tambang itu membuang produk-produk yang mencemari ke sungai, sehingga airnya menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Lalu para bruder dari Kolese St. Yosep, khususnya Bruder Ernest Bernier, harus mengangkut air dari Danau Temiskaming, yang berjarak hampir dua kilometer, selama hampir tujuh tahun.

Unsur terakhir yang perlu ditambahkan ke dalam berkas kegagalan misi di Cobalt Utara adalah lambat-laun ketidakpercayaan yang telah terbentuk antara para biarawan Kolese St. Yosep dengan mereka yang berada di Quebec. Sudah pasti bahwa isolasi Ontario Utara telah mendorong para pastor muda untuk mengambil inisiatif sendiri dan menghindari penggunaan permintaan izin yang berlebihan. Pada tahun 1912, jarak ini masih menjadi masalah. Sehingga di Quebec, bahkan dengan secara terbuka mentang-mentang berkata bahwa Kolese Cobalt Utara telah dibangun tanpa otorisasi yang diperlukan, dan bahwa pinjaman utang yang dikontrak oleh Pastor Courbon belum mendapat persetujuan dari pihak berwewenang, dll. Hal itu cukup bagi para pastor di Kolese tersebut, setidaknya yang paling berpengaruh di antara mereka, seakan merasa tersiksa dan disalahpahami oleh pihak berwenang Quebec dan terutama oleh Pastor Maillard yang tidak ragu-ragu mengecam apa yang terjadi di Cobalt Utara. Mungkin sebuah pemahaman yang lebih baik akan meredakan kesulitan, sayangnya itu tidak terjadi.

Pada musim semi tahun 1919, dihadapkan pada kebuntuan keuangan yang dialami Kolese St. Yosep, pihak berwenang Tarekat memutuskan untuk menutup sekolah tersebut pada akhir tahun ajaran. Keputusan ini diterima dengan sangat pedih oleh para anggota Kolese Cobalt Utara yang selalu beranggapan bahwa mereka dapat mengatasi kesulitan, asalkan diberi waktu. Perintah penutupan tersebut menyebabkan kemarahan yang lebih besar karena tim di Kolese St. Yosep sebenarnya tidak pernah dimintai pendapat sebelumnya. Harga kegagalan Cobalt Utara sangat tinggi. Tentu saja, ada hutang lebih dari $55.000 yang harus ditanggung oleh karya usaha Tarekat di Kanada hingga akhir tahun empat puluhan. Tetapi ada yang lebih besar lagi. Para Misionaris Hati Kudus ini kehilangan beberapa anggota yang sangat berharga di Cobalt Utara: P. Louis Jourdon, P. Mathieu Lagrevol, P. Yosep Cailler, dan P. Pierre Courbon yang beralih status menyeberang menjadi klerus keuskupan. Jika kita menambahkan P. Yosep Reibel dan P. Charles Sauner yang juga menjadi imam diosesan setelah kegagalan di Medicine Hat dan Quéappelle, maka usaha pendirian MSC di luar Quebec benar-benar membahayakan kelangsungan hidup rumah-rumah di Quebec dan di Beauport. Dari seluruh wilayah Kanada, Tarekat MSC kehilangan anggota hampir setengah dari imamnya.

Pada tanggal 31 Juli 1919, surat kabar Le Droit d’Ottawa menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh P. François Xavier Maillard dan P. François Bourrin guna menjelaskan penutupan Kolese St. Yosep di Cobalt Utara tersebut. Meskipun keputusan untuk pergi angkat kaki sudah final dan langkah-langkah untuk penjualan atau disewakan Perguruan Tinggi serta lahan pertanian telah diambil, mereka sesungguhnya ingin mundur saja tanpa banyak keributan, meninggalkan kesan bahwa suatu hari nanti, kemungkinan

Dengan undangan yang baik-baik, atas persetujuan pihak atasan dan bantuan yang murah hati dari Yang Mulia, Para Pastor M.S.C., yang selama tujuh tahun terakhir, meskipun dengan banyak kesulitan yang disebabkan terutama oleh perang dunia, telah melakukan segala upaya yang mungkin guna membuat Perguruan Tinggi ini berjalan, tetapi bala bantuan yang mereka harapkan dari Prancis setelah kembalinya situasi damai – akibat perang, sayangnya! banyak imam dan calon guru masa depan dari tarekat sungguh-sungguh mengalami nasib terpuruk  – benar-benar kekurangan, mereka mendapati diri mereka dalam kondisi yang menyakitkan untuk menutup lembaga ini sambil menunggu mereka memiliki staf pengajar yang diperlukan. Dengan penyesalan yang amat mendalam mereka terpaksa wajib angkat kaki, dalam waktu yang singkat, kami mengharapkannya, pengorbanan ini bagi Yang Mulia dan kepada umat keuskupan-Nya yang terkasih.”

Para pastor François-Xavier Maillard, Amédée Lacasse, dan François Bourrin bertanggung jawab atas likuidasi Kolese St Yosep di Cobalt Utara beserta lahan pertaniannya di Guigues. Meskipun telah melakukan berkali-kali pendekatan, baik kepada otoritas sipil maupun agama, toh mereka tidak dapat bantuan apa pun untuk Perguruan Tinggi tersebut. Perguruan Tinggi ini akhirnya terbiar, hancur beberapa tahun kemudian. Hari ini, hanya tersisa sebagai saksi dari

perjalanan hidup para Misionaris Hati Kudus di Cobalt Utara, Paroki Bunda Hati Kudus yang didirikan oleh Pastor Pierre Courbon, lenyap di rerumputan tinggi di seberang kuala  Mill Creek, di mana ada batu fondasi datar besar di dasar tangga utama Kolese St. Yosep. Yang tersisa dari para murid dari Karya Kecil Cobalt Utara itu pindah dan tinggal di rumah di Jln Santa Ursula di Quebec. Di sinilah kursus diberikan antara tahun 1919-1920. Akan tetapi para siswa yang berusia muda itu tidak menyadari bahwa nasib para Misionaris Hati Kudus di Kanada sedang dipertaruhkan. Seperti singa tua yang terluka bersembunyi di hutan untuk menyembuhkan luka mereka, para konfrater dari Quebec dan Beauport sedang menganalisis situasi tersebut. Terpaan penderitaan telah menimpa sangat keras sejak kedatangan mereka di Kanada yang beriklim teramat dingin. Kegagalan terjadi lebih banyak daripada keberhasilan: Qu’Appelle, Medecine Hat, Cobalt Utara, dan jumlah barisan misionaris yang telah berkurang drastis. Beberapa konfrater yang diharapkan dapat mendirikan provinsi baru, malah kini bekerja di jajaran klerus keuskupan. Setelah menyimak dengan lebih teliti, para penyintas segera menyadari bahwa meskipun jumlah kegagalan lebih besar daripada jumlah keberhasilan, namun kualitas dari apa yang telah dicapai selama 20 tahun menunjukkan masa depan yang menjanjikan, asalkan seseorang tidak membiarkan dirinya kewalahan oleh frustrasi. Kegagalan telah mengajarkan bahwa seseorang harus mengandalkan Kuasa Ilahi, tentu saja, tetapi ketidakpercayaan tertentu sudah cukup baik, terutama di hadapan para penipu yang hanya menawarkan keberhasilan dengan mudah. ​​Dan lagi, ada tempat ziarah rohani Bunda Hati Kudus yang pengaruhnya amat besar, sampai jauh ke luar kota Quebec, serta Majalah Annals yang memperkenalkan Tarekat kecil ini di antara penduduk Amerika. Ada 7 mahasiswa dari Cobalt Utara ini, bersama para skolastik di tempat ini yang siap untuk meneruskan karya perjuangan ini. Juga para bruder pembantu di Beauport, yang dibentuk oleh P. Barral dan P. Bourrin dalam keadaan sulit, merekalah penjaga mercusuar yang terpanggil untuk tetap bertahan. Oleh karena itu, rencana untuk berkemas meninggalkan semua karya yang sudah dimulai dibatalkan. Masa depan mungkin tidak cerah, namun 20 tahun pertama telah memperkuat Tarekat kecil ini dan memungkinkannya untuk menancapkan akar kekuatan yang lebih dalam dari yang diperkirakan orang di tanah orang Quebec.

Picture of Romo Herman Pongantung MSC

Romo Herman Pongantung MSC

Romo Herman Pongantung MSC adalah Imam dan Biarawan Kongregasi Misionaris Hati Kudus yang berkarya di Amerika Serikat.

Facebook
WhatsApp
Email

JUBILEUM 150 TAHUN TAREKAT MSC DI DUNIA BARU AMERIKA (Bagian IV)

Keberangkatan beberapa konfrater menuju wilayah bagian barat Kanada, pada tahun 1908, adalah bukti bahwa dahaga akan perluasan dan diversifikasi karya yang mendekam di hati banyak kaum religius muda, yang sekarang tinggal di Quebec maupun di Beauport, sama sekali tidak padam. Orang terus bermimpi tentang alam bebas yang mega luas. Terutama karena Gereja di Kanada sedang mengalami tahun-tahun perkembangan yang pesat.

Read More »

JUBILEUM 150 TAHUN TAREKAT MSC DI AMERIKA (Part 2)

Mungkin tampaknya mengherankan bahwa misi pertama Tarekat di luar tanah Prancis hampir saja gagal. Akan tetapi jika Anda mengikuti dengan saksama, justru sebaliknya yang akan terjadi sungguh lebih mengejutkan. Sebenarnya segalanya yang terjadi bisa disimpulkan bahwa komunitas Watertown ini hanya akan sanggup bertahan semalam. Penyebab utamanya adalah pilihan atau kemauan para biarawan untuk pendirian misi ini. Tidak diragukan lagi bahwa semuanya adalah orang-orang suci.

Read More »

Tentang Perbedaan antara Melayani Dunia dan Melayani Allah

Dunia mula-mula menawarkan kesenangan, tetapi kemudian menghadirkan kekecewaan. Allah justru memperlihatkan salib dan pengorbanan terlebih dahulu, namun akhirnya memberikan sukacita sejati. Pada saat kematian, dunia akan meninggalkan kita, tetapi Allah tetap tinggal untuk selama-lamany

Read More »