Pater Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC
(18 Juli 1955 – 25 Januari 2026)
Masa Kecil dan Keluarga
Pater Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC lahir pada 18 Juli 1955 di Muntilan, Jawa Tengah. Ia merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara, terdiri dari enam laki-laki dan empat perempuan, dari pasangan Stanislaus Moegito dan Bernadetha Rumini. Sejak bayi, Pater Yuliono telah diperkenalkan pada kehidupan iman Katolik. Ia dibaptis pada 16 Juli 1955 di Paroki Santo Antonius Muntilan, Keuskupan Agung Semarang. Lingkungan keluarga yang sederhana serta kehidupan menggereja di Muntilan menjadi fondasi awal pertumbuhan iman dan karakter hidupnya.

Pendidikan dan Pembinaan Panggilan
Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Negeri Ngadipuro (1961–1968), lalu dilanjutkan ke SMP Negeri I Muntilan (1969–1971). Benih panggilan semakin tampak ketika ia masuk Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan (1972–1975). Selanjutnya, ia melanjutkan studi filsafat dan teologi di STF–Seminari Pineleng, Manado (1976–1983).
Perjumpaan pertamanya dengan Tarekat MSC terjadi pada tahun 1973 di Keuskupan Purwokerto, saat ia mengantar adiknya mendaftar sebagai seminaris. Dari pengalaman sederhana inilah benih panggilan religiusnya bertumbuh semakin kuat.
Ia memulai masa novisiat MSC pada 29 Desember 1977 di Karanganyar–Kebumen, Jawa Tengah. Kaul pertama diikrarkan pada 6 Desember 1978, dan kaul kekal pada 15 Januari 1983 di Pineleng. Sehari kemudian, 16 Januari 1983, ia ditahbiskan sebagai diakon oleh Mgr. Theodorus Moors, MSC di Seminari Tinggi Pineleng. Puncak panggilan hidupnya terjadi pada 25 Juli 1983, ketika ia ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Paschalis Soedita Hardjasoemarta, MSC di Pekalongan, Keuskupan Purwokerto
Awal Imamat dan Pelayanan di Papua
Sejak tahbisan imamatnya, Pater Yuliono langsung diutus ke Papua — wilayah perutusan yang menuntut ketangguhan fisik sekaligus kedalaman spiritual. Pelayanan pastoralnya dimulai sebagai Pastor Paroki Sakramen Maha Kudus Waropko (1983–1984), kemudian Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Kumbe (1984–1988), dan selanjutnya Pastor Paroki Bunda Hati Kudus Wendu (1988–1998), semuanya di Keuskupan Agung Merauke. Selain melayani umat sebagai pastor paroki, ia juga dipercaya mengemban berbagai tugas strategis, antara lain:
- Delegatus Sosial Keuskupan Agung Merauke (1989–1998)
- Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Agung Merauke (1996–2001)
- Dekan Dekenat Kepi (1998–2002)
- Pemimpin Komunitas MSC Daerah Papua di Merauke (2002–2005)
Selama kurang lebih 22 tahun, Pater Yuliono mengabdikan hidup imamatnya di Papua. Ia dikenal sebagai imam yang dekat dengan umat, rela menempuh medan berat demi menjumpai mereka, dan melayani dengan hati seorang gembala. Semangat mudanya membawanya meneladan Sang Gembala Agung, Yesus Kristus, dalam kesederhanaan dan pengorbanan.
Pelayanan di Banjarmasin
Pada tahun 2005, Pater Yuliono melanjutkan perutusannya ke Keuskupan Banjarmasin sebagai Pastor Paroki Santa Theresia Pelaihari (2005–2009).

Kepercayaan Gereja semakin besar ketika ia diangkat menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Banjarmasin (2008–2017). Dalam periode yang sama, ia juga menjabat sebagai Pastor Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin (2009–2017). Di tengah kesibukan struktural, ia tetap setia hadir bagi umat dan menjaga kehidupan pastoral paroki.
Kembali ke Jawa: Wonosobo dan Karanganyar
Setelah bertahun-tahun berkarya di luar Jawa, Pater Yuliono kembali melayani di Keuskupan Purwokerto sebagai Pastor Kepala Paroki St. Paulus Wonosobo (2017–2022).
Sejak tahun 2022 hingga akhir hayatnya, ia dipercaya menjadi Pastor Kepala Paroki St. Yosef Pekerja Karanganyar, Keuskupan Purwokerto. Di masa ini, meskipun kesehatannya mulai menurun, semangat pelayanannya tidak pernah surut. Ia tetap menjalankan tugas pastoral sejauh yang dimampukan oleh kondisi fisiknya.

Spiritualitas Pelayanan
Sepanjang hidupnya sebagai imam dan religius MSC, Pater Yuliono menerima setiap perutusan dengan ketaatan dan tanggung jawab. Ia tidak memilih tugas, tetapi menjalaninya dengan kesetiaan — baik sebagai pastor paroki, pimpinan komunitas, maupun pejabat keuskupan.
Pelayanannya selalu berakar pada keyakinan bahwa hidup adalah milik Tuhan sepenuhnya. Kedekatannya dengan umat, kesederhanaan hidup, serta kerelaannya berkorban menjadi kesaksian nyata spiritualitas Hati Kudus Yesus yang ia hidupi.
Wafat dan Warisan Iman
Pada hari Minggu, 25 Januari 2026, pukul 16.15 WIB, Pater Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, MSC menghembuskan napas terakhir di Purworejo. Ia wafat dalam usia 70 tahun 6 bulan 7 hari, setelah menjalani 48 tahun hidup bakti sebagai MSC dan 43 tahun pelayanan imamat. Ia menutup perjalanan hidupnya sebagai imam dengan setia hingga akhir. Hidupnya dirangkum dalam sabda Kitab Suci yang menjadi pegangan imannya:
“Jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”
(Roma 14:8)
Selamat jalan, konfrater dan imam kami. Hidupmu telah kau persembahkan bagi Tuhan dan umat-Nya. Kehadiranmu akan selalu dikenang. Kiranya engkau beristirahat dalam damai dan masuk dalam kebahagiaan Kerajaan Surga.

Tinggalkan Balasan