Jakarta, 25 Januari 2026 — Kardinal Ignatius Suharyo menerima audiensi dari pihak Yayasan Sekolah Chevalier di Wisma Keuskupan Agung Jakarta pada Minggu (25/1). Pertemuan ini menjadi ruang dialog penting antara pimpinan Gereja dan para pengelola sekolah yang seluruhnya berasal dari kalangan awam.
Dalam audiensi tersebut, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa peran kaum awam sangat strategis dalam karya pelayanan Gereja, terutama di bidang pendidikan.
“Pelayanan pendidikan adalah bentuk konkret kasih Gereja. Di sinilah peran awam menjadi sangat penting, terlebih ketika mereka hadir untuk melayani mereka yang membutuhkan,” ujar Kardinal Suharyo.
Pihak Yayasan Sekolah Chevalier juga menyampaikan kegelisahan terkait keberlanjutan karya mereka. Mayoritas pengurus saat ini telah berusia di atas 65 tahun. Mereka mempertanyakan langkah yang perlu ditempuh agar yayasan tetap berjalan setia pada visi dan misi awal di tengah keterbatasan regenerasi.
Menanggapi hal tersebut, Kardinal Suharyo menekankan pentingnya kerja sama dengan institusi religius. Ia menjelaskan bahwa baik kaum awam maupun para imam dapat mengalami pergantian peran dan penugasan. Karena itu, kesinambungan karya pelayanan perlu ditopang oleh kolaborasi yang kuat dengan tarekat atau kongregasi terkait.
Secara khusus, Kardinal mengingatkan bahwa nama “Chevalier” merujuk pada Pendiri Kongregasi Misionaris Hati Kudus (MSC). Oleh sebab itu, ia mendorong agar Yayasan Sekolah Chevalier menjalin kerja sama yang lebih erat dengan para rohaniwan MSC.
“Perlu ada keterlibatan MSC sebagai pewaris spiritualitas Chevalier, agar arah karya pendidikan ini tetap terjaga dan berakar pada semangat pendirinya,” tegas Kardinal.
Audiensi ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama untuk memastikan Sekolah Chevalier di PIK 2, Teluk Naga, Tangerang, Banten, terus berkembang sebagai pusat pendidikan yang berlandaskan nilai iman, pelayanan, dan kepedulian sosial, demi masa depan generasi muda.
