Bagian Kedua (Lanjutan)

Klik link dibawah ini untuk membaca bagian pertama

KLIK DI SINI

Posisi Pater Chevalier di Issoudun

Pada saat discernment penting tentang tawaran misi dari Vatikan kepada MSC, Pater Chevalier menghadapi situasi sulit di Perancis. Pada 1879 kaum Republikan berkuasa di Perancis. Ketegangan dengan Gereja tidak terhindarkan. Harta benda Gereja dan Tarekat-Tarekat religius disita atau dirusak. Di antaranya adalah penyegelan basilika Hati Kudus di Issoudun. Dekrit anti-religius dan anti-klerikal, yang menerapkan sekularisme ketat, dan menargetkan serta membatasi hak-hak dari Kongregasi-Kongregasi religius Katolik, diberlakukan. Bahkan Kongregasi yang tidak disetujui Pemerintah dilarang dan harus mengosongkan rumah-rumah atau tempat-tempat mereka. Mereka juga dilarang untuk mengajar di lembaga-lembaga pendidikan.
Negara menuntut agar Kongregasi-Kongregasi mendapatkan otorisasi legal. Sikap bijak dan hati-hati mendorong Pater Chevalier untuk memperjelas posisinya sebagai pastor paroki tetap di Issoudun, yang tidak bisa digantikan, terhadap penguasa sipil dan menghindar dari segala hal yang menunjuk pada dia sebagai pemimpin suatu komunitas religius. Bersama dengan beberapa imam religius (biarawan) lain Pater Chevalier menyatakan diri sebagai imam keuskupan (diosesan).
Juga, Uskup Agung Marchal, yang menggantikan Uskup Agung de la Tour d’Auvergne sebagai Uskup Bourges, tidak menunjukkan sikap yang bersahabat dengan Pater Chevalier. Ia lebih condong kepada pemerintahan Republikan yang berkuasa pada waktu itu. Sikap ini sangat berbeda dengan pendahulunya yang sangat mempercayai Pater Chevalier.
Menghadapi situasi baru tersebut dalam surat-surat yang dikirim kepada Pater Chevalier dan dalam tulisan di Annals of Our Lady of the Sacred Heart sebutan pemimpin komunitas religius dihindari. Ia disebut saja sebagai imam kepala atau pastor kepala (archpriest), sedangkan para pemimpin komunitas lain misalnya sebagai Pater Jouët – Roma atau Pater Deidier – Barcelona, Pater Piperon – Haaren, Belanda, dsb. Bahkan, sejak pengusiran para imam biarawan pada November 1880, Uskup Agung Bourges juga memandang para Imam MSC lainnya sebagai imam-imam keuskupannya (diosesan). Juga, ketika Pater Chevalier, yang saat ini berstatus sebagai pastor kepala paroki, dan olehnya dipandang sebagai seorang imam diosesan keuskupan agung Bourges, hendak berangkat ke Roma untuk menghadiri penahbisan Gereja di sana Uskup Agung memberi izin tetapi tidak lebih dari delapan hari. Sejumlah imam MSC yang tetap ingin menjadi biarawan (religius) terpaksa harus mengungsi ke Belanda dan Belgia.

Bahkan situasi tersebut membuat Pater Chevalier terpisah dari para Penasihatnya. Pater Piperon pergi ke Belanda menjalankan tugas sebagai pemimpin rumah novisiat di sana, Pater Jouët tinggal di Roma sebagai Prokurator dan P. J. B. Guyot tinggal di komunitas St Gérand-le-Puy. Hanya P. Morisseau, yang bertanggung jawab atas Sekretariat Asosiasi Bunda Hati Kudus dan atas Annals, tinggal di Issoudun.

Tantangan dan Keberatan

Tawaran misi ini bukannya tanpa tantangan atau keberatan. Situasi di dalam negeri Perancis yang memberlakukan peraturan anti religius dan anti klerikal disertai penganiayaan terhadap Gereja cukup mengganggu. Juga, keberatan utama datang dari dalam Tarekat sendiri, misalnya dari Pater Guyot sendiri. Dalam suratnya kepada Pater Chevalier, 1 April 1881, di satu pihak Pater Guyot menyetujui permohonan dari Vatikan, tetapi di pihak lain merasa bahwa Tarekat MSC belum siap untuk bermisi. Ia menentang misi ke Nugini. Ia menyebutkan bahwa perlu pertimbangan obyektif tentang para calon yang kemungkinan akan diutus ke Nugini. Bagi dia beberapa nama yang disebut-sebut tidak cocok, entah karena karakter atau kesehatan mereka.
Takhta Suci juga sadar bahwa untuk pergi ke misi diperlukan dana yang cukup. Untuk memenuhi keperluan misi, yang diandalkan adalah Marquis de Rays, pendiri dari Koloni, seorang Kristiani yang baik dan dermawan (benefactor), yang tinggal di Barcelona. Beliau berjanji untuk membiayai para misionaris di koloni itu. Ketika di kemudian hari muncul ketidakpastian tentang bantuan ini, karena perubahan relasi antara para pejabat Koloni dan para pemimpin MSC, Pater Chevalier mengatakan: “Jelas bahwa dalam negosiasi kita mengenai Nugini dan Kepulauan Salomon, dsb, kita harus bertindak secara independen dari Marquis de Rays, yang masa depan upayanya masih meragukan.”

Penerimaan Misi

Pater Chevalier taat pada Takhta Suci. Walaupun ia merasa belum matang untuk bermisi namun ia menerima permohonan tersebut. Dalam rekreasi malam Pater Chevalier membacakan surat penerimaan misi Nugini kepada Kardinal Simeoni, yang akan dikirimkan esok kepada Pater Jouët di Roma. Dengan penuh ketaatan Pater Chevalier menjawab permohonan dari Takhta Suci:
“Issoudun, 10 April 1881. Pater yang baik, saya mengirimkan surat resmi tentang penerimaan Misi Nugini. Setelah membaca seluruhnya silahkan serahkan surat itu kepada Yang Mulia Kardinal Simeoni. Anda dapat membubuhkan tanggal kapan pun anda mau, misalnya Jumat Agung, hari Penyelamatan, atau tanggal lain….” Surat penerimaan misi tersebut dibubuhi nama tempat: Issoudun, dan tanggal: 16 April 1881.


“Kepada Yang Mulia Kardinal Simeoni, Prefek Propaganda”

Issoudun, 16 April 1881
Usulan yang disampaikan kepada kami oleh Takhta Suci melalui perantara memberi kami kehormatan tetapi sekaligus membuat kami khawatir. Kami tidak membayangkan bahwa Bapa Suci akan memalingkan mata kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus yang hina dina ini untuk diberi kepercayaan mengemban Misi yang sedemikian besar. Untuk menjalankan evangelisasi Nugini dan pulau-pulau sekitarnya tentu saja melampaui kekuatan kami. Sifat primitif penduduk, kebiasaan-kebiasaan mereka dan bahasa-bahasa mereka yang sulit, iklim ekuatorial – singkatnya, semuanya menyarankan suatu kerasulan yang sangat berat. “Surat resmi” yang saya terima dengan penuh hormat dari Yang Mulia, menyampaikan keinginan dari Bapa Suci, tertanggal 25 Maret. Tanggal ini signifikan – itulah hari ketika surga memilih mengabarkan berita Keselamatan melalui Inkarnasi Sang Sabda; dan itulah hari ketika Leo XIII memilih untuk menawarkan kepada kami, melalui utusan yang setia, Misi Melanesia.
Seturut teladan Santa Maria dengan rendah hati kami telah memberitahukan tentang ketidakmampuan kami yang jelas kelihatan, dan kekhawatiran kami yang memang beralasan. Meskipun pengakuan kami yang jujur, namun oleh karena anda, seperti dilakukan Malaikat, mengatakan, ‘Jangan Takut; terimalah tawaran yang disampaikan; Roh Allah akan menyertai kamu, kekuatan yang Mahatinggi akan menaungi kamu,’ kami dengan hormat patuh, dan Tarekat kami yang hina dina ini menjawab bersama Perawan dari Nazareth: ‘Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.’ Dan bersama Santo Petrus: ‘Atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala’.
Jules Chevalier, Pemimpin Umum Kongregasi Misionaris Hati Kudus.”

Penerimaan misi ad gentes ini merupakan realisasi dari impian Pater Chevalier ketika ia masih berstudi di Seminari Tinggi Bourges. Ketika itu ia menyatakan: “Ketika membaca Annals dari Propaganda Fide timbul keinginan dalam diri saya untuk pergi ke misi di luar negeri. Saya siap berkorban untuk membawa cahaya Injil kepada mereka yang kaum kafir.” Ini juga merupakan realisasi dari motto yang diberikannya kepada Tarekat yang baru: Ametur ubique terrarum Cor Jesu Sacratissimum – Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana di seluruh dunia. Selain itu, banyak seminaris yang belajar di Sekolah Apostolik ingin pergi bermisi ke luar negeri; mereka ingin menanggapi kebutuhan mendesak agar kasih Allah dialami oleh mereka yang belum mengenal Kristus: Caritas Christi urget nos. Dalam Formula Instituti 1868 salah satu tujuan Tarekat MSC dibentuk adalah “untuk memperkenalkan harta cinta dan belas kasih yang terkandung di dalam Hati Kristus kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus.” Juga, pada 1898 Pater Chevalier memperjelas tujuan Tarekat dengan mengatakan: “Mulai tumbuh kebiasaan untuk menyebut kita para Misionaris Hati Kudus dari Issoudun. Proteslah itu. Marilah kita hanya mengatakan: para Misionaris Hati Kudus Yesus. Itulah nama resmi kita. Kita adalah milik Gereja dan bukan semata-mata milik Issoudun.”

Sejak penerimaan resmi misi tersebut sejumlah konfrater MSC tidak sabar menunggu kelanjutannya, misalnya P. Piperon menulis dari Belanda pada 2 Mei 1881: “Apa yang terjadi dengan Misi tersebut? Saya tidak mendengar apa-apa lagi…. Di sini kami sering membahas tentang hal itu…. Jika dibutuhkan saya merasa siap untuk pergi, tetapi saya tahu saya tidak akan diminta karena kemungkinan besar saya tidak berguna. Tetapi saya tidak mau mengatakan ‘tidak.’

Pada 14 April 1881 Pater Chevalier menulis surat kepada P. Durin, yang sedang bertugas di Watertown, untuk meminta kesediaannya diutus ke misi baru ini:

“Takhta Suci ingin agar kita mengambil tanggung jawab misi di Oceania: Nugini, Kepulauan Salomon dsb. Daerah-daerah ini telah ditinggalkan sejak 1854. Tidak ada imam katolik di sana. Ketika misi ini ditawarkan kepada kita, saya tidak setuju dengan keberatan-keberatan yang serius. Takhta Suci mengundang kita lagi untuk berkarya di sana, dan telah mengirim surat kepada saya, melalui Kardinal Simeoni. Uskup Agung Bourges telah dikonsultasikan dan ia berpendapat bahwa kita tidak dapat lagi menolak. Oleh karena itu, saya telah menerima Misi yang penting ini.
Di antara pulau-pulau yang berdekatan dengan Nugini ada dua pulau utama, yang disebut Britania Baru dan Irlandia Baru di mana seorang Perancis – Le Marquis de Rays – telah mendirikan suatu koloni yang terdiri dari orang-orang Perancis, Belgia dan Spanyol di bawah nama Perancis Baru. Bapa Suci berpikir koloni ini akan menjadi sangat berguna untuk misi kita. Marquis de Rays adalah seorang katolik yang bersemangat dan telah berjanji untuk membantu kita.
Para misionaris akan berangkat secara gratis dengan sebuah kapal uap yang sering berlayar dari Barcelona ke koloni yang baru ini. Saya ingin memilih tiga atau empat anggota Tarekat kita yang tidak takut mengemban misi yang berbahaya ini. Sementara itu, Superior dan pemimpin ekspedisi ini akan diberikan fakultas-fakultas dan gelar Prefek Apostolik. Saya ingin membawamu, Pater yang baik, ke Misi Nugini ini. Apakah anda bersedia pergi? Sampaikan kepada saya perasaan-perasaanmu. Apakah anda bersedia pergi ke daerah-daerah yang jauh dan buas ini?….

Jawaban pertama dari P. Durin tiba dengan telegram pada akhir April 1881 dan pater Jouét segera diberitahu pada 30 April: “Pater Durin mengirim telegram dengan mengatakan bahwa ia sepenuhnya siap untuk Nugini.” Pada 15 Mei 1881 P. Jouét menulis kepada Pater Chevalier: “Sri Paus menyerahkan kepada kita Misi besar yang diusulkan; surat resmi terlampir. Surat itu tiba tadi malam setelah semua orang sudah tidur. Pernyataan yang sederhana dan jujur tentang kekurangan tenaga, sumber-sumber dan pengalaman meneguhkan Bapa Suci dan bagi beliau semuanya itu sama sekali bukanlah halangan. Seperti Tuhan berkata kepada Petrus, Ia mengatakan kepada kita: Duc in altum. Kita harus pergi ke sana. Berbahagialah mereka yang pergi untuk pertama kali guna bekerja keras dan mati demi mempersiapkan panenan yang banyak untuk para pengganti mereka.” 

Pada 13 Juni 1881 Pater Durin beraudiensi dengan Paus Leo XIII; pada 1 Juli 1881 Propaganda Fide memberikan kepadanya dan para rekan misionarisnya kuasa-kuasa (potestates) yang perlu untuk perutusan mereka.

Sambutan Positif

Pada 14 Mei 1881 Kardinal Simeoni menyurat kepada Pater Chevalier dan menyambut secara positif penerimaan misi tersebut, seperti yang sudah dinantikan. Dalam surat tersebut Kardinal mengungkapkan rasa puas dan terima kasih atas kesediaan untuk mengemban misi baru:
“Saya gembira untuk memberitahukan kepada anda rasa puas dari Bapa Suci setelah mengetahui kesediaan anda untuk mengirimkan misionaris-misionaris guna mengevangelisasi Vikariat apostolik Melanesia dan Mikronesia, termasuk Nugini, Perancis Baru dan banyak pulau Oceania. Bapa Suci memuji semangat anda dan memberikan berkat apostolik kepada anda dan kepada semua misionaris dari Kongregasi anda. Untuk sekarang ini, hanya perlu beberapa misionaris untuk pergi ke Vikariat itu. Kalau anda sudah memberikan kepada saya nama-nama mereka, saya tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk memberikan fakultas-fakultas yang perlu, dan untuk mengangkat, sebagai Superior Misi, orang yang anda tunjuk cocok untuk jabatan itu; para imam yang sudah ada di Koloni Perancis Baru berada di bawah otoritasnya.”

Para Misionaris Pertama

Ketika Tarekat telah menerima permohonan dari Takhta Suci muncul persoalan tentang siapa yang akan diutus. Pilihan tidak banyak. Beberapa nama disebutkan dan masing-masing ada catatan. Tetapi, ketaatan misioner tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan anggota atau hal-hal lain. Pada hari Minggu, 15 Mei 1881, Pater Durin, yang diminta untuk memimpin tim pertama para misionaris ke Oceania, menyampaikan homili perpisahan kepada umat di Watertown, di mana ia sedang bertugas.
Pada 30 Mei 1881 Pater Durin tiba di stasiun kereta api Issoudun. Esok harinya ia diminta untuk memimpin Misa Pesta Bunda Hati Kudus. Pada sore harinya, di akhir Doa Sore (Vesper) Pater Chevalier menyampaikan laporan tentang Asosiasi Bunda Hati Kudus dan sekaligus mengumumkan secara publik tentang misi ke Oceania dan Pater Joseph Durin diangkat menjadi pemimpinnya dengan gelar ‘Prefek Apostolik’.

Pada hari bersejarah, tanggal 1 September 1881, para misionaris MSC pertama berangkat dari pelabuhan Barcelona, dengan kapal ‘Barcelona’, ke Vikariat Melanesia dan Mikronesia, khususnya Nugini. Mereka adalah P. Joseph Durin, P. André Navarre, P. Théophile Cramaille, Br. Mesmin Fromm dan George Durin. Saat melepas para misionaris ini, Pater Jouét sangat terharu dan berkata: “Salib-salib, yang akan saya berikan kepada anda, telah diberkati secara khusus oleh Bapa Suci; saya memberikan salib-salib itu kepada anda, atas nama Pater Pemimpin Umum kita yang sangat terkasih, yang tidak dapat hadir karena tugas; Pater yang terhormat telah mendelegasikan saya untuk mewakilinya pada hari yang mulia ini. Ia tidak hadir secara pribadi, ia hadir secara roh.”

Sebenarnya Pater Chevalier sangat ingin hadir secara pribadi, namun situasi di Perancis sejak pengusiran para religius/biarawan menuntut kehati-hatian yang besar; Chevalier tidak dapat menunjukkan diri sebagai Pemimpin dari suatu lembaga religius. Juga, sebagai imam keuskupan agung Bourges ia harus hadir dalam Sinode diosesan yang diadakan pada waktu yang sama. Pada 30 Agustus 1881 Pater Chevalier menulis surat dari Bourges kepada Pater Jouét, sebagai berikut:

“Tidak mungkin saya hadir pada saat keberangkatan para konfrater yang terkasih dan heroik, yang akan pergi untuk membawa pengetahuan dan cinta Hati Kudus serta Bunda kita ke Oceania. Betapa saya iri terhadap mereka! Betapa besar pengorbanan saya karena saya tidak dapat memberkati dan merangkul mereka pada saat mulia ini! Sampaikan permohonan maaf saya kepada mereka yang mendapat privilese ini! Sebaliknya, mohon berkat untuk saya dan Tarekat! Saya merangkul anda dengan ucapan selamat jalan. Betapa besar penderitaan saya karena tidak bisa ada di Barcelona pada saat ini… Apabila keberangkatan mereka tertunda, kirimkan telegram kepada saya. Salam hangat kepada semua.”

Sebelum tiba di Nugini Pater Durin jatuh sakit dan kembali ke Perancis ditemani oleh saudaranya, George Durin. Hanya tiga misionaris, yakni P. André Navarre, P. Théophile Cramaille dan Br. Mesmin Fromm yang tiba di pulau Matupit, dekat Rabaul, pada 29 September 1882. Di kemudian hari, pada 4 Juli 1885 Pater Henri Verjus tiba dan memulaikan misi di Pulau Yule, dekat Bereina, Papua Nugini. Dalam perjalanan misi ini tiga misionaris itu melewati dan menginap di Batavia (Jakarta). Mereka tinggal bersama para Jesuit di Jakarta selama enam bulan sambil menunggu visa, petunjuk dan tiket ke Australia melalui Singapore.

 

Misi ke Watertown

Sebelumnya, fondasi pertama MSC di luar Eropa adalah Watertown, Amerika Serikat, yang ketika itu berada dalam wilayah MSC Kanada. Hal ini tidak lepas dari penyebaran cepat dari Devosi kepada Bunda Hati Kudus di Amerika Serikat dan Kanada. Diketahui bahwa devosi ini berasal dari Issoudun dan komunitas MSC. Setelah kunjungan dari Uskup dari Toronto, yang berbicara banyak tentang Kanada, ke Issoudun, dan percakapan-percakapan tentang misi, dibuat pengaturan untuk mengirim tenaga MSC dan melihat kemungkinan ekspansi karya di sana.

Atas undangan dari Uskup Agung Lynch dari Toronto, Kanada, pada 1873 Dewan Pimpinan Umum MSC memutuskan untuk mengirim tenaga MSC di sana. Pada 21 Juli 1873 Pater J. B. Chappel dan Bruder Henri Dechâtre meninggalkan Le Havre menuju Toronto. Menjelang akhir 1875 Uskup dari Ogdensburg meminta bantuan tenaga berbahasa Perancis. Nama P. Chappel disebutkan; menjelang akhir 1875 ia sudah berada di Watertown, yang kemudian menjadi pusat komunitas dan karya MSC. Pada 20 April 1876 diadakan upacara pengutusan di Issoudun bagi para misionaris ke Dunia Baru (Kanada), yakni Pater Durin sebagai Superior dan dua skolastik, Benjamin Grom dan J.B. Métayer.32
Kesulitan muncul ketika komunitas Watertown terpukul oleh penugasan baru dari Pater Durin dan masalah tenaga MSC. Beberapa anggota seperti Pater Guyot dan Pater Morisseau mengusulkan agar komunitas ini dibubarkan. Namun, Pater Chevalier menyelamatkannya, seperti dinyatakan dalam suratnya yang panjang tertanggal 11 Juni 1881 kepada Pater Piperon.

Penutup

Itulah awal misi Ad Gentes dari Tarekat MSC ke luar Eropa. Pater Cuskelly menulis: “Inilah adalah awal dari banyak halaman mulia dari sejarah kita, tentang perjalanan-perjalanan yang sulit, tentang penderitaan-penderitaan dan pengorbanan misi, tentang mereka yang meninggal jauh terlalu muda karena demam dan efek-efek kemiskinan. Namun, usaha penuh dedikasi dari garis panjang mereka yang berlayar ke selatan dan timur dari Eropa adalah untuk membangun Gereja di banyak daerah: di Papua Nugini, Kepulauan Gilbert, Indonesia dan Filipina.”

Itulah awal keterbukaan pada tugas perutusan yang luas, yang melintasi batas-batas daerah, negara dan suku sendiri. Dengan demikian perutusan Tarekat tidak lagi terbatas pada wilayah sendiri tetapi menjadi perutusan lintas batas (border-crossing mission): lintas batas karya dan lintas batas daerah/budaya. Suatu misi tanpa batas (mission without frontiers)! Pada misionaris tidak hanya memperhatikan pelayanan rohani, tetapi juga mengangkat derajat dan martabat penduduk melalui karya-karya rohani dan sosial mereka, seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dsb. Dalam wasiat rohaninya (1904) Pater Chevalier menulis: “Misi kita ke luar dan di antara kaum kafir sangatlah penting, dan merupakan kemuliaan termurni Lembaga kita.”
Rencana Tuhan tidak dapat dihalangi oleh keterbatasan manusia. Seperti yang diyakini oleh Pater Chevalier: “Apabila Allah menghendaki sesuatu terlaksana, halangan-halangan menjadi sarana bagi-Nya untuk mencapai tujuan” (c. 1870). Ke depan sejarah Tarekat MSC, yang memuat kisah-kisah agung dan heroik, akan terus ditorehkan dan dituliskan.
Pater Cuskelly menulis: “Ada banyak bab heroik dalam sejarah misi ini, yang telah ditulis dengan penuh kasih dan dengan rasa kagum dalam suatu laporan, di dalam Annals, dalam buku-buku dan artikel-artikel. Bab-bab itu masih sedang ditulis dalam kehidupan harian ratusan MSC yang hidup dan berkarya di ‘Melanesia dan Mikronesia,’ di Indonesia, Filipina, Afrika, Amerika Latin dan Jepang.” Paus Yohanes Paulus II berpesan: “Anda tidak hanya memiliki sejarah gemilang untuk diingat dan diceritakan, tetapi juga sejarah besar yang masih harus diwujudkan! Pandanglah ke masa depan, ke mana Roh Kudus mengutus Anda untuk melakukan hal-hal yang lebih besar lagi.”

Facebook
WhatsApp
Email

Kabar Duka: Pater Johanis Nangkoda Salaki MSC Tutup Usia, Gereja Kehilangan Imam yang Mengabdikan Hidup bagi Umat

Duka menyelimuti keluarga besar Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Keuskupan Manado, dan seluruh umat yang pernah dilayaninya. Pater Johanis Nangkoda Salaki MSC, atau yang akrab disapa P. Anis, telah berpulang ke rumah Bapa pada Rabu, 17 Juni 2026, pukul 05.02 WITA di RS Sentra Medika Manado. Ia wafat dalam usia 55 tahun setelah beberapa waktu menjalani perawatan medis akibat penyakit yang dideritanya.

Read More »

25 Maret 1881: Awal Misi Ad Gentes MSC

Setiap Tarekat atau Ordo hidup berdasarkan semangat (spirit) dan karisma Pendiri serta menerima suatu tugas perutusan (misi) melalui Gereja. Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa tugas perutusan adalah esensial bagi setiap lembaga hidup bakti:

Read More »

HARI RAYA HATI KUDUS YESUS

Search Search SURAT PIMPINAN UMUM PADA PESTA HATI KUDUS YESUS Rumah Induk Misionaris Hati KudusRoma, 12 Juni 2026 HARI RAYA HATI KUDUS YESUS   Saudara-saudara yang terkasih, Pada Hari Raya

Read More »

Pentakosta yang Terjadi dalam Keheningan

Peristiwa Pentakosta sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang spektakuler: angin keras, lidah-lidah api, para rasul yang tiba-tiba berani. Tetapi P. Jules Chevalier mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam—apa yang mendahului Pentakosta.

Read More »