Ambon – Para imam muda dari Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) mengikuti kegiatan pembinaan OGF (Ongoing Formation) Komda Maluku yang berlangsung pada 9–11 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Zomer, Paroki Hati Kudus Yesus, Kota Ambon. Sebanyak delapan imam muda bersama seorang frater diakon dan dua frater tahun khusus mengambil bagian dalam pertemuan yang bertujuan memperdalam identitas panggilan, memperkaya spiritualitas, serta meneguhkan semangat kepemimpinan misionaris.
Selama tiga hari, para peserta mengikuti rangkaian sesi refleksi dan diskusi bersama para imam MSC yang berbagi pengalaman pelayanan, spiritualitas, serta refleksi misi Gereja di berbagai konteks. Setiap pertemuan menjadi bagian dari proses pembinaan berkelanjutan yang meneguhkan panggilan para imam muda sebagai misionaris Hati Kudus Yesus.
Pertemuan pertama dipandu oleh Ronie Dahua MSC, yang mengajak para peserta merefleksikan makna panggilan imamat dalam spiritualitas MSC. Dalam refleksinya, ia menekankan bahwa menjadi imam MSC merupakan sebuah anugerah istimewa yang harus disyukuri dan dihidupi secara mendalam.
Menurutnya, identitas seorang imam tidak dapat dipahami hanya sebagai rangkaian aktivitas pelayanan atau “doing”. Lebih dari itu, imamat adalah sebuah cara hidup atau “being”, yakni keberadaan yang terus-menerus dibentuk oleh relasi yang intim dengan Kristus. Dari relasi itulah seorang imam menemukan kekuatan untuk hidup dalam komunitas, melayani umat, dan mewartakan kasih Allah kepada dunia.
Spiritualitas Hati Kudus menjadi pusat dari panggilan tersebut. Seorang imam MSC dipanggil untuk menghadirkan kasih Hati Kudus Yesus di tengah kehidupan Gereja, keluarga, komunitas religius, serta masyarakat luas.
Sesi kedua dipandu oleh Oce Rettob MSC, yang mengajak para peserta menelusuri kembali akar sejarah dan spiritualitas tarekat. Ia menyoroti inspirasi panggilan dari pendiri MSC, Jules Chevalier, yang sejak masa kecil telah memiliki kerinduan mendalam untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.
Semangat misioner itu kemudian menjadi fondasi lahirnya spiritualitas Hati yang khas dalam tarekat MSC. Spiritualitas ini tidak hanya berbicara tentang devosi pribadi, tetapi juga tentang membangun budaya kehidupan yang berakar pada kasih, solidaritas, dan pengharapan.
Sejarah mencatat bahwa semangat tersebut mendorong para misionaris MSC untuk pergi ke wilayah-wilayah yang jauh, termasuk misi pertama di Melanesia dan Mikronesia. Di wilayah-wilayah itu, para misionaris menghadirkan Injil melalui pendekatan yang penuh penghargaan terhadap budaya lokal.
Dalam konteks Indonesia, khususnya Maluku, para imam muda diajak untuk mengingat kembali perjalanan panjang kehadiran MSC yang telah mencapai 125 tahun. Warisan iman dan pengabdian para misionaris terdahulu menjadi sumber inspirasi untuk melanjutkan karya misi Gereja pada masa kini.
Pertemuan ketiga menghadirkan Alo Lamere MSC, yang bergabung melalui pertemuan daring dari Australia. Dalam refleksinya, ia menekankan bahwa identitas seorang imam MSC tidak dibatasi oleh wilayah geografis tertentu. Di mana pun berada, seorang imam MSC tetap adalah misionaris Kristus yang diutus untuk menghadirkan kasih Allah bagi semua orang.
Ia juga berbagi pengalaman pelayanan di Australia, yang menghadapi berbagai tantangan sekularisasi. Realitas sosial seperti legalisasi aborsi, euthanasia, dan perkawinan sejenis menunjukkan perubahan nilai yang signifikan dalam masyarakat.
Namun, menurutnya, tantangan tersebut justru membuka peluang baru bagi kehadiran Gereja. Di tengah situasi tersebut, para imam dipanggil untuk hadir dengan sikap keterbukaan, penerimaan, dan dialog. Kehadiran pastoral yang penuh empati sering kali menjadi jalan bagi umat untuk kembali menemukan makna iman mereka.
Dalam pengalaman itu pula, para imam MSC tetap menemukan penghargaan dan dukungan dari umat yang merindukan bimbingan rohani.
Sesi keempat dipimpin oleh Cel Mayabubun MSC, yang membagikan refleksi mengenai bagaimana pengalaman hidup dapat menjadi ruang lahirnya panggilan pelayanan.
Ia menegaskan bahwa identitas MSC dikenal luas sebagai tarekat yang memiliki hati yang penuh belas kasih dan dekat dengan kaum kecil. Spiritualitas Hati Kudus tidak berhenti pada refleksi teologis, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang sederhana namun bermakna.
Contoh konkret dari spiritualitas tersebut dapat ditemukan dalam pelayanan sehari-hari di paroki dan lembaga pendidikan. Sikap ramah kepada tamu, perhatian kepada keluarga yang mengalami kesulitan, pendampingan bagi pasangan yang belum menikah secara resmi, serta penerimaan penuh kasih terhadap anak-anak yang datang untuk dibaptis menjadi wujud nyata dari spiritualitas tersebut.
Melalui tindakan-tindakan sederhana itu, kasih Hati Kudus Yesus dapat dirasakan secara konkret oleh umat.
Pertemuan terakhir dipandu oleh Jemy Balubun MSC, yang mengajak para imam muda memasuki dimensi kepemimpinan dalam pelayanan Gereja.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan dalam kehidupan religius dan pastoral bukanlah sebuah privilese atau posisi kehormatan. Sebaliknya, kepemimpinan adalah tanggung jawab yang lahir dari panggilan untuk melayani dan menggerakkan umat.
Seorang pemimpin yang efektif, menurutnya, dibangun di atas beberapa pilar penting: kemampuan membangun pengikut, menghasilkan buah pelayanan, memberikan teladan hidup, serta memikul tanggung jawab dengan integritas.
Dalam konteks misi Gereja, kepemimpinan juga menuntut kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman, merumuskan strategi pelayanan yang relevan, serta menggerakkan komunitas menuju perubahan yang lebih baik.
Ia juga memperkenalkan delapan langkah transformasi misi, mulai dari membangunkan rasa urgensi, membentuk koalisi kepemimpinan, merumuskan visi bersama, hingga mengkonsolidasikan budaya baru dalam kehidupan komunitas dan karya pastoral.
Seluruh rangkaian pembinaan OGF Komda Maluku ini membentuk sebuah narasi yang utuh mengenai panggilan seorang imam MSC. Dari refleksi tentang anugerah panggilan, penghayatan spiritualitas Hati Kudus, kesadaran akan identitas misionaris universal, hingga tanggung jawab kepemimpinan dalam pelayanan.
Melalui proses pembinaan ini, para imam muda diteguhkan untuk menjadi gembala yang baik dan murah hati, yang hadir di tengah umat dengan hati yang terbuka dan penuh kasih. Mereka dipanggil untuk terus menimba kekuatan dari spiritualitas Hati Kudus Yesus, sambil menghadapi tantangan dunia yang terus berubah.
Pada akhirnya, seluruh perjalanan pembinaan ini bermuara pada satu tujuan utama: membentuk para imam MSC yang mampu menggerakkan hati umat dalam kasih Hati Kudus Yesus serta melanjutkan misi Gereja dengan semangat pelayanan yang setia dan penuh harapan.