Dari Kebersamaan Formasi Menuju Tanggung Jawab Provinsi
Melihat foto pasangan Provinsial dan Wakil Provinsial yang pastor Yoran bilang “menyala”, hati saya seperti ditarik kembali ke lorong waktu ke masa ketika keduanya masih mengenakan jubah sederhana sebagai frater, berjalan dengan langkah yang belum tergesa, tetapi mata yang sudah penuh mimpi.

Saya teringat betul: mereka memang seperti sudah “dipasangkan” sejak dahulu. Di komunitas, Romo Suroto menjadi kepala toko, dan Romo Ronie adalah wakilnya. Satu memegang kunci, satu lagi memegang semangat. Satu menghitung barang, satu menghitung senyum. Toko kecil itu bukan sekadar tempat menjual kebutuhan harian, melainkan ruang belajar tentang kepercayaan, tentang kerja sama, tentang bagaimana melayani dengan hati.
Dan mereka berhasil. Toko itu hidup. Bukan karena barangnya paling lengkap, tetapi karena yang melayani punya hati yang lengkap.
Hari ini, waktu seperti mengulang adegannya. Mereka kembali berdiri berdampingan, kali ini bukan menjaga rak-rak kebutuhan komunitas, melainkan menjaga arah dan harapan sebuah provinsi. Dulu kepala toko dan wakilnya. Kini Provinsial dan Wakil Provinsial. Dulu melayani komunitas kecil. Kini melayani keluarga besar MSC Provinsi Indonesia.
Saya percaya, Tuhan tidak pernah sembarang memasangkan orang.
Romo Suroto yang tenang dan teduh, seperti danau di pagi hari, membutuhkan ketegasan Romo Ronie yang mengalir deras seperti sungai pegunungan. Dan Romo Ronie yang gesit dan penuh daya menggelora, sesekali perlu diingatkan oleh keteduhan Romo Suroto untuk memperlambat langkah, karena tidak semua tujuan harus dicapai dengan tergesa.

Sebab keberhasilan sebuah tim bukanlah soal seberapa cepat kita tiba di garis akhir. Bukan soal seberapa banyak program selesai dalam satu periode. Tetapi seberapa setia kita berjalan bersama. Seberapa luas hati kita merangkul para konfrater, bahkan mereka yang mungkin berjalan tertinggal di belakang. Seberapa hangat tangan kita menjangkau mereka yang merasa jauh, lelah, atau terluka.
Pekan depan dan seterusnya, bersama dewan provinsi, mereka memikul tanggung jawab yang lebih besar. Kebijakan provinsi bukan sekadar lembaran Visi-misi dan penegasan-penegasan sebagai aturan yang disahkan DPL dan diarsipkan. Ia adalah arah hidup bersama. Ia adalah kompas. Ia adalah suara hati yang diterjemahkan dalam keputusan.
Kebijakan yang lahir dari doa yang panjang, dari discernment yang jujur, dan dari keberanian profetis, itulah yang akan menjaga kesetiaan pada karisma Pater Pendiri dan Spiritualitas Hati yang kontekstual yang menjawab kebutuhan Gereja dan dunia hari ini. Bukan kebijakan yang kaku, melainkan kebijakan yang bernapas. Bukan kebijakan yang menekan, melainkan yang menghidupkan.
Semoga setiap keputusan yang diambil sungguh menjadi sarana kehidupan. Menjadi jembatan bagi perutusan. Menjadi sumber harapan. Bagi para anggota MSC. Bagi Gereja. Bagi masyarakat yang torang samua layani.
Dan seperti toko kecil yang dulu mereka kelola bersama, semoga provinsi ini pun “laris” dalam kasih, kaya dalam persaudaraan, dan penuh dalam kesetiaan.
Karena pada akhirnya, yang dikenang bukanlah jabatan, melainkan jejak hati yang ditinggalkan.
(oleh, RP. Aldrin Rey MSC)
Tinggalkan Balasan