JAKARTA – Sidang pembuka yang berlangsung mulai pukul 10.30 hingga 11.30 WIB ini menandai langkah strategis tarekat dalam mengevaluasi karya pelayanan sekaligus menentukan arah kepemimpinan ke depan.

Acara diawali dengan prosesi roll-call dan pengesahan peserta, yang kemudian dilanjutkan dengan sapaan hangat dari Pater Samuel (Sam) selaku Pemimpin Provinsi sekaligus Ketua Musprov. Dalam sambutannya, Pater Sam menegaskan bahwa Musprov ini dilaksanakan berdasarkan mandat Statuta Provinsi (2013) No. 104
Terdapat tiga agenda utama yang menjadi roh dalam pertemuan kali ini:
1. Mendengarkan, mempertimbangkan, dan mengevaluasi pertanggungjawaban Pemimpin Provinsi dan Pemimpin Komunitas Daerah/Rumah/Bina mengenai penyelenggaraan Provinsi dan Komunitas-komunitas serta implementasi rekomendasi-rekomendasi dan keputusan-keputusan Kapitel Provinsi terakhir.
2. Memberi masukan-masukan kepada Dewan Provinsi Lengkap (DPL) untuk menetapkan kebijakan-kebijakan Provinsi yang dipandang perlu dalam hal hidup dan tugas perutusan Provinsi.
3. Mengadakan pemilihan Pemimpin Provinsi sebagaimana diatur dalam tata cara Pemilihan Pemimpin Provinsi di luar Kapitel Provinsi (Statuta Provinsi, 84 dan lampiran)
“Semoga Musprov ini membuahkan hasil yang baik bagi Provinsi kita tercinta, karena kita percaya Tuhan senantiasa mencurahkan Roh Kudus-Nya atas kita,” harap Pater Sam menutup sapaannya.

Suasana sidang semakin khidmat dengan kehadiran perwakilan Pemimpin Umum MSC, P. Christopher Chaplin, MSC, yang didampingi oleh P. Gene Pejo. Dalam sambutannya, Pater Chris menekankan bahwa Provinsi Indonesia bukan sekadar “berkembang”, melainkan “hidup” sebagai jantung misi global.
Ia menyampaikan apresiasi tinggi dari Superior Jenderal, P. Abzalon, atas kedermawanan dan keberanian misioner anggota MSC Indonesia.
Pater Chris juga menyoroti pentingnya jalan Sinodalitas yang digagas Paus Fransiskus.”Ini bukan sekadar metode, melainkan transformasi. Sebuah pergeseran dari ‘ego’ ke ‘eco’; dari pemikiran yang berpusat pada diri sendiri menuju kesadaran bahwa kita hidup dalam hubungan yang saling terkait,” tegas Pater Chris.
Ia juga mengingatkan bahwa agenda pemilihan pemimpin dalam Musprov ini bukanlah sekadar mekanisme organisasi, melainkan sebuah proses discernment (pembedaan roh). Oleh karena itu, kita tidak hanya memilih seorang pemimpin. Kita sedang berusaha mengenali siapa yang dipanggil oleh Roh Kudus untuk melayani. Di samping itu, tugas utama peserta bukanlah merancang masa depan secara kaku, melainkan menjadi peka dan terbuka terhadap gerak Roh Kudus yang tidak dapat dikendalikan.
Akhirnya, ia mengharapkan dengan semangat “Hati yang Terluka dan Terbuka”, para peserta Musprov diajak untuk memasuki hari-hari dialog dengan kejujuran dan saling mendengarkan secara mendalam.
Usai sambutan dari pimpinan umum, secara simbolis pimpinan sidang diserahkan kepada dua moderator, P. Sulvisius Joni Astanto, MSC dan P. Stefanus Berty Tijow, MSC.
Tahap awal persidangan ini diakhiri dengan penjelasan dari Steering Committee mengenai proses teknis Musprov, pengesahan jadwal, serta agenda praktis lainnya.* (Tim Sekretariat Musprov 2026)
Tinggalkan Balasan