Keberangkatan Pastor Jean-Baptiste Chappel, yang didampingi Bruder Henri Dechâtre, dari pelabuhan Le Havre di Prancis menuju ke benua baru Amerika di Toronto wilayah Kanada, pada tanggal 31 Juli 1873, bukanlah suatu yang kebetulan.
Keberangkatan Pastor Jean-Baptiste Chappel, yang didampingi Bruder Henri Dechâtre, dari pelabuhan Le Havre di Prancis menuju ke benua baru Amerika di Toronto wilayah Kanada, pada tanggal 31 Juli 1873, bukanlah suatu yang kebetulan.
VATIKAN – Sebuah kabar membanggakan datang bagi Gereja Katolik Indonesia. Paus Leo XIV secara resmi menunjuk Uskup Agung Ende, Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, sebagai Anggota Dikasteri untuk Evangelisasi […]
Peristiwa Pentakosta sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang spektakuler: angin keras, lidah-lidah api, para rasul yang tiba-tiba berani. Tetapi P. Jules Chevalier mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam—apa yang mendahului Pentakosta.
Sering kali kita mengucapkan doa tanpa sungguh menyadari apa yang kita katakan. Doa menjadi kebiasaan, bukan lagi perjumpaan. Dalam teks ini, P. Jules Chevalier mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam Ave Maria atau Doa Salam Maria—bukan sekadar sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai doa yang memiliki asal ilahi dan kekuatan pembentukan jiwa.
Dalam bagian sebelumnya kita telah merenungkan bahwa Maria adalah Mater misericordiae—Bunda penuh belas kasih. Namun teks ini membawa kita melangkah lebih jauh: bukan hanya tentang siapa Maria, tetapi bagaimana kita harus menanggapi kasih itu. Sebab ada bahaya halus yang diingatkan oleh P. Jules Chevalier: kita bisa saja percaya pada kebaikan Maria, tetapi tidak berubah.
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita tidak lagi memiliki banyak kata. Doa menjadi pendek, pikiran menjadi kabur, hati terasa berat. Dalam momen seperti itu, iman tidak menuntut kita berbicara panjang—ia hanya mengajak kita untuk menyebut satu nama dengan penuh kepercayaan: Maria. Nama ini sederhana, tetapi tidak pernah kosong. Ia seperti gema dari surga yang masuk ke dalam kedalaman hati manusia.
Search Search Maria, Bunda Kerahiman yang Menuntun Kita Pulang Di sebuah ruang sederhana di Seminari Tinggi Bourges, seorang seminaris muda—Jules Chevalier—belajar berbicara tentang Allah, bukan hanya dengan kata-kata yang benar, […]
Pada hari keempat Perjalanan Apostoliknya di Afrika, Pope Leo XIV memilih datang ke salah satu wilayah paling terluka di Kamerun: Bamenda, pusat dari konflik berdarah yang dikenal sebagai “Krisis Anglophone”. Di tempat di mana suara tembakan telah lama menggantikan harapan, Paus menyampaikan pesan yang tajam, mendesak, dan menggugah: perubahan tidak bisa ditunda lagi—harus dimulai hari ini.
Paus Leo XIV tiba di Bandara Internasional Yaoundé-Nsimalen, dekat ibu kota Kamerun, pada Rabu (15/4/2026) pukul 14.57 waktu setempat. Kedatangan ini menandai dimulainya tahap kedua Perjalanan Apostoliknya di Benua Afrika, setelah sebelumnya mengawali kunjungan di Aljazair.
Dalam homilinya, Paus mengajak umat untuk tidak pernah kehilangan harapan, sekalipun hidup dipenuhi kesulitan dan pergumulan. Ia menegaskan bahwa ajakan Kristus untuk “dilahirkan kembali dari atas” bukanlah tuntutan yang mustahil, melainkan anugerah yang membuka jalan bagi perubahan hidup yang sejati.