Sidang Kelima & Keenam: Evaluasi Bidang Formasi dan Urgensi Safeguarding
JAKARTA – Memasuki hari kedua, Selasa (10/2), rangkaian sidang Musyawarah diawali dengan suasana hening melalui Ibadat Pagi yang dipimpin oleh Br. Wilhelmus Lengary MSC dan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh P. Ignatius Sani Saliwardaya MSC (Wakil Provinsial) pada pukul 06.00 WIB. Mengambil inspirasi dari bacaan Injil harian (Mrk. 7:1-13), momen spiritual ini menjadi fondasi penting bagi para peserta sebelum memasuki agenda sidang yang padat.

Menjadi Misionaris dengan Hati
Dalam homilinya, P. Ignatius Sani Saliwardaya MSC, menekankan pentingnya evaluasi terhadap “habitus” atau kebiasaan dalam komunitas religius.
Beliau mengingatkan bahwa Yesus tidak menolak tradisi, namun mengecam pengabaian perintah Allah demi aturan manusia yang kaku. P. Sani mengajak agar para anggota tidak menjadi “Misionaris Tanpa Hati” (Missionarii Sine Corde), melainkan tetap menjadi Misionarii Sacratissimi Cordis yang setia.

“Jangan sampai kita mengabaikan nilai-nilai luhur dan evaluasi hidup demi hasrat pribadi. Pertemuan formal maupun perjumpaan pribadi harus menjadi sarana untuk terus menghidupkan spiritualitas khas MSC,” tegasnya.
Sharing Misi Luar Negeri
Usai jeda sarapan, sidang kelima dibuka tepat pukul 08.00 WIB yang dimoderatori P. Stefanus Berty Tijow MSC. Sidang diawali dengan sesi berbagi pengalaman tentang misi luar negeri oleh P. Rikardo Kristisimus Senduk MSC, seorang misionaris yang bertugas di Ekuador.
Kehadirannya sebagai utusan luar negeri memberikan perspektif baru bagi peserta sebelum agenda utama dimulai. Usai pemaparan, moderator membuka ruang dialog bagi forum untuk memberikan tanggapan maupun komentar terkait dinamika misi di mancanegara tersebut.
Laporan Bidang Formasi
Agenda pada sidang kelima ini adalah mendengarkan laporan evaluasi komprehensif di bidang Formasi, yang di antaranya mencakup: Pertama, Tahap formasi awal hingga

On-Going Formation; Kedua, Masa sabatikal, studi lanjut, dan kursus spesifik; Ketiga, Urgensi literasi digital dalam proses pembentukan calon imam dan bruder maupun imam dan bruder yang telah berkarya; Keempat, Strategi promosi panggilan di era modern.
Urgensi Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan (Safeguarding)
Salah satu isu krusial yang mengemuka dalam sidang ini adalah mengenai Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan. Berdasarkan rangkuman sekretariat, seluruh komunitas daerah dan rumah formasi dilaporkan telah memulai langkah sosialisasi terkait safeguarding. Meski demikian, sidang menyoroti satu tantangan besar: belum terbentuknya tim protokol di tingkat komunitas lokal.

Mengingat maraknya kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh klerus dan religius secara global, maka pembentukan tim ini dinilai sebagai langkah yang sangat mendesak (urgent). Para peserta sepakat bahwa kesadaran kolektif harus diwujudkan dalam struktur yang nyata, bukan sekadar wacana dalam pertemuan daring maupun luring.
Penutup Sesi

Setelah sesi pemaparan dan tanggapan dari para pemimpin komunitas pada sesi kelima dan keenam, rangkaian acara pagi itu ditutup dengan momen hening. P. Stefanus Berty Tijow mengajak seluruh peserta untuk meresapi laporan-laporan yang telah disampaikan sebelum melanjutkan agenda berikutnya.* (Tim Sekretariat Musprov 2026)

Pentakosta yang Terjadi dalam Keheningan
Peristiwa Pentakosta sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang spektakuler: angin keras, lidah-lidah api, para rasul yang tiba-tiba berani. Tetapi P. Jules Chevalier mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam—apa yang mendahului Pentakosta.

Doa yang Membentuk Hati
Sering kali kita mengucapkan doa tanpa sungguh menyadari apa yang kita katakan. Doa menjadi kebiasaan, bukan lagi perjumpaan. Dalam teks ini, P. Jules Chevalier mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam Ave Maria atau Doa Salam Maria—bukan sekadar sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai doa yang memiliki asal ilahi dan kekuatan pembentukan jiwa.

Bunda yang Tidak Pernah Menyerah
Dalam bagian sebelumnya kita telah merenungkan bahwa Maria adalah Mater misericordiae—Bunda penuh belas kasih. Namun teks ini membawa kita melangkah lebih jauh: bukan hanya tentang siapa Maria, tetapi bagaimana kita harus menanggapi kasih itu. Sebab ada bahaya halus yang diingatkan oleh P. Jules Chevalier: kita bisa saja percaya pada kebaikan Maria, tetapi tidak berubah.

Tinggalkan Balasan