JUBILEUM 150 TAHUN TAREKAT MSC DI AMERIKA (1876-2026)

JUBILEUM 150 TAHUN TAREKAT MSC DI AMERIKA (1876-2026)

Keberangkatan Pastor Jean-Baptiste Chappel, yang didampingi Bruder Henri Dechâtre, dari pelabuhan Le Havre di Prancis menuju ke benua baru Amerika di Toronto wilayah Kanada, pada tanggal 31 Juli 1873, bukanlah suatu yang kebetulan. Sejak beberapa tahun terakhir orang-orang di Issoudun tengah membicarakan tentang ‘Dunia Baru’, maksudnya Kanada. Terutama ini dikarenakan oleh adanya korespondensi yang cukup teratur terjadi antara Uskup Agung Toronto, namanya John Joseph Lynch, dengan seorang pendiri Tarekat MSC, yakni Pastor Jules Chevalier.

Akan tetapi orang yang mungkin berada di balik proyek pendirian misi Misionaris Hati Kudus di Toronto ini bisa disebut adalah Uskup Armand-François-Marie De Charbonnel. Ia adalah imam dari Tarekat Kapusin yang menjabat Uskup Agung Toronto dari tahun 1850 hingga tahun 1860. Devosinya terhadap Bunda Maria Hati Kudus demikian kuat. Ketika masa pensiunnya tiba ia kembali ke Lyon (Prancis) dan masih secara teratur mengunjungi Issoudun. Tidak dipungkiri kalau ia hadir pada perayaan yang dipimpin oleh Uskup Agung Bourges, yang menandai pendirian resmi Asosiasi Bunda Maria Hati Kudus, tanggal 7 Juni 1864. Adapun pada setiap kali kunjungannya, ia senantiasa berbicara secara menarik tentang Kanada dan Toronto. Sehingga ketika Pastor Chevalier mulai memikirkan pendirian misi tarekat di luar negeri, Kanada tampak baginya sebagai tujuan impian yang sudah jelas.

 

Pada awal tahun 1870 Pendiri Tarekat bahkan menyarankan agar tiga orang Misionaris Hati Kudus segera berangkat ke Quebec, sedangkan enam lainnya ke Ottawa. Padahal ada masalah yang menghadang  waktu itu bahwa tarekat kecil ini baru memiliki paling banyak selusin imam!

Uskup De Charbonnel kembali lagi berziarah ke Issoudun untuk perayaan besar tahun 1871. Saat itu mungkin saja masih ada pembicaraan tentang misi Kanada dan Toronto.

Selanjutnya, mulai tahun 1872, korespondensi yang sangat sering terjalin antara seorang kepala biara bernama Pastor Louis Gibra, yang berasal dari Prancis, yang kini sedang menjalankan pelayanan di Keuskupan Toronto, dengan Pastor Chevalier. Dari nada akrab dalam surat-surat mereka memperlihatkan bahwa ia pernah menjadi teman sekelas Pastor Chevalier dan Pastor Piperon selagi di Seminari Bourges. Undangan untuk segera datang dan menetap di Toronto jadi semakin mendesak, yang mana menunjukkan kemungkinan bisa mendirikan paroki dan memulai berbagai karya. Umpan kail sudah dibuang, para Misionaris Hari Kudus siap menelan!

Oleh karena itu, Dewan Umum memutuskan untuk mengirim seseorang guna menjajaki kemungkinan pendirian sebuah karya di negara Kanada, dan lebih khusus lagi di Kota Toronto.

Isi pembicaraan adalah tentang siapa yang akan diutus, yakni Pastor Jean-Baptiste Chappel dan Pastor Rémy Ledoux. Akhirnya kami setuju untuk mengirim Pastor Chappel yang didampingi oleh Bruder Koajutor Henri Dechâtre.

Uskup Lynch pasti sangat kecewa melihat Pastor Chappel. Sebab yang ia mengharapkan adalah para imam muda. Tetapi yang dikirim ternyata seorang pria yang hampir berusia enam puluh tahun, dan yang hampir tidak bisa berbahasa Inggris. Atas alasan terakhir ini Pastor Chappel tidak menerima penunjukan tugas secara formal dari uskup. Ia harus puas saja menjadi seorang asisten, pertama di paroki Ste-Croix-de-la- Chapelle, lalu kemudian di Gereja St. Patrick di Toronto. Dalam surat-suratnya ia mengeluh dengan nada pahit mengenai keadaan buruk ini, yang tidak memberikan pertanda baik bagi masa depan para Misionaris Hati Kudus di Toronto.

Pada akhir musim gugur tahun 1873, Uskup Lynch berangkat ke Eropa. Kali ini beliau singgah di Issoudun. Pastor Chappel amat berharap banyak dari perjalanan ini. Uskup Agung Toronto ini menghabiskan beberapa waktu di Issoudun, bahkan memberikan, pada tanggal 24 Februari 1874, di gereja Hati Kudus (Mont Matre, Paris), penahbisan uskup kepada Vikaris Jenderalnya, Uskup Jean-François Jamot, yang diangkat menjadi Vikaris Apostolik Kanada Utara (Peterborough). Namun, tukar pikiran antara Uskup Lynch dan Pastor Chevalier ini tidak membawa perubahan apapun pada situasi Pastor Chappel, meskipun di Issoudun orang-orang terus bermimpi tentang el dorado untuk berdirinya Tarekat MSC di daratan Amerika. “Uskup Agung Toronto datang ke Karya Kecil (Chezal-Benoît) ditemani oleh seorang imam dari Kanada; dia mengabarkan kami tentang Pastor Chappel; Pastor Chappel mendirikan Karya Kecil di Amerika; dia adalah imam pertama Toronto; semua orang senang dengannya.”

Pastor Chevalier juga menganggap dirinya sebagai orang hebat. Dia bahkan meminta Uskup Lynch, yang dalam perjalanannya ke Roma itu, untuk menyampaikan petisi kepada Paus Pius IX memohon izin “untuk mendirikan rumah-rumah MSC di Amerika Utara dan juga untuk mendirikan Novisiat MSC.Tidak satu pun dari hal ini terwujud untuk saat itu.

Selain itu, tidak lama setelah kembalinya Uskup Agung Toronto pada tanggal 19 Maret 1874, Pastor Jean-Baptiste Chappel, yang merasa putus asa dan yakin bahwa Uskup Lynch tidak berniat mengizinkannya untuk menetap secara permanen di Toronto, juga terutama untuk dapat mengandalkan pekerjaan yang dapat menghidupi kebutuhan dirinya, mengirim Bruder Henri Dechâtre kembali ke Prancis, kemudiian ia sendiri pindah ke Montreal. Uskup Édouard-Charles Fabre, adalah uskup pembantu, menunjuknya sebagai vikaris di Paroki St-Joseph. Itu jauh dari mimpi lama tentang Kanada, kendati sudah jauh lebih baik daripada tinggal di Toronto.

WATERTOWN

Pada tanggal 17 atau 18 Desember 1875, Uskup Fabre menerima surat dari uskup dari Kota Ogdensburg, yang terletak di wilayah utara negara bagian New York (USA), namanya Uskup Edgar P. Wadhams.

Penduduk yang terdiri dari orang Prancis-Kanada yang berada di daerah Watertown, dalam wilayah New York State, membutuhkan seorang imam yang fasih berbahasa Prancis. Dan uskup dari Ogdensburg ini menginginkannya dari anggota kongregasi religius manapun.Apakah Anda tahu sebuah ordo religius yang bersedia berkorban guna mengurusi orang-orang Prancis-Kanada di Paroki Notre Dame, Watertown? Ordo tersebut harus mendirikan sekolah untuk memulihkan iman di sana. Anak-anak sekarang sedang bersekolah di Sekolah Minggu Protestan.” Uskup Fabre segera teringat akan Pastor Chappel dan memintanya agar menulis surat kepada uskup di Ogdensburg itu. Dia tidak perlu mengatakan hal itu dua kali. Segalanya terjadi dengan begitu cepat. Demikian yang terjadi pada akhir tahun 1875 Pastor Chappel tiba di Watertown untuk melayani wilayah koloni Kanada-Prancis, yang tergabung dalam wilayah Paroki Notre Dame.

Pastor Jules Chevalier adalah orang yang selalu menjadi pembela setia dari sebuah ide mengenai pendirian karya di luar Prancis dan bahkan di luar Eropa. Kendatipun pendapat para anggota dewannya jauh dari pendapat beliau. Terjadilah, pada Februari 1875, sewaktu hasil pemilihan legislatif pemerintahan Prancis memberikan gambaran sekilas tentang hari-hari kelam bagi Gereja Prancis dan khususnya bagi komunitas religius, maka gagasan bahwa sebuah pendirian karya di luar Eropa mungkin bisa bermanfaat sebagai ‘alasan perlindungan jika terjadi pengusiran atau penganiayaan. Hal tersebut tampaknya menjadi bagian dari debat mencari solusi terbaik. Juga, segera setelah Pastor Chappel menetap di Watertown, diputuskanlah bahwa saatnya telah tiba untuk mengirim seorang superior ke sana. Pastor Fernand Durin diangkat untuk jabatan itu. Pada hari Sabtu, tanggal 22 April 1876, ia berangkat dari Le Havre bersama kedua skolastik yakni Louis Métayer dan Benjamin Grom. Perjalanan itu demikian sulitnya hingga baru pada tanggal 6 Mei ketiga rekan baru Pastor Chappel tiba di Watertown.

Pastor Jean-Baptiste Chappel tidak menyadari bahwa awan badai akan segera terkumpul di langit komunitas kecil ini. Pastor Durin adalah seorang pria yang suka bertindak, realistis, otoriter, dengan pengalaman kurang lebih dua tahun hidup berkomunitas. Baginya, jalan terpendek antara dua titik adalah garis lurus, terlepas dari apakah ada orang di garis tersebut atau tidak. Pastor Chappel memahami hal demikian dengan pengorbanan diri yang sama sekali tidak sedikit. Ia dikenal di Watertown karena kelembutan hatinya, semangat kerasulan, dan semangat pengorbanannya.

Salah satu tugas paling mendesak bagi Pastor Durin, setibanya di Watertown, adalah menyiapkan rumah permanen bagi komunitas kecil. Karena rumah yang ditempati Pastor Chappel terletak di Jalan Thompson statusnya sewa dan pemiliknya, Tuan McCauley dari New York, hendak berkeinginan menjualnya. Pada tanggal 23 Juni 1876, Pastor Durin membeli rumah tersebut seharga 8.000 dolar, yang dapat dilunasi selama lima tahun.

Selain Gereja Notre Dame, yang menjadi tanggung jawab para Misionaris Hati Kudus, dan pelayanan lain di sekitar Watertown yang sebagian besar menjadi tanggung jawab Pastor Chappel, perlu juga memberikan perhatian terhadap kedua skolastik muda, Grom dan Metayer. Para Pastor Durin dan Chappel menjadi profesor filsafat, kemudian, teologi sambil terus belajar Bahasa Inggris.

Pada tanggal 6 Maret 1877, Pastor Pendiri menulis surat kepada para anggota komunitas di Watertown untuk memberi tahu mereka bahwa Tahta Suci telah menyetujui Konstitusi Tarekat dan mengizinkan pembukaan Novisiat di Watertown. Juga, pada tanggal 20 April berikutnya, novis Gustave Thévenot dan Louis Legros tiba dari Issoudun untuk bergabung dengan komunitas kecil ini dan menyelesaikan Masa Novisiat mereka di tempat ini. Tiga bulan kemudian, atas permintaan khusus dari Pastor Pendiri, maka Pastor Durin menerbitkan Majalah Les Annales Bunda Maria Hati Kudus, yang edisi pertamanya terbit pada Juni 1877.

Namun badai berkecamuk di dalam komunitas kecil tersebut. Pastor Chappel dan Durin sebenarnya tidak cocok untuk tinggal bersama di bawah satu atap. Pastor Chappel mengatakan bahwa ia dikesampingkan oleh Pastor Durin, sebaliknya yang terakhir ini mendapati bahwa Pastor Chappel terus-menerus berusaha memaksakan pandangannya baik tentang bagaimana memimpin komunitas maupun peran menjalankan pelayanan di Watertown. Pastor Durin mencari dukungan dari Issoudun. Sementara di Prancis sudah diketahui seperti apa sifat Pastor Chappel yang baik ini. Pastor Chevalier membujuknya untuk menunjukkan sikap moderat dan semangat rekonsiliasi. Namun, Pastor Chappel, karena lelah, memutuskan dirinya untuk kembali saja ke Prancis. Menjelang akhir Mei 1878, ia berangkat ke Issoudun bersama para calon imam Louis Legros dan Louis Métayer. Dia yang terakhir ini menemaninya sampai di New York, lalu pergi mencari penginapan di Montreal di mana ia melanjutkan studi teologinya. Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam untuk Keuskupan Oregon.

Sementara itu Pastor Durin bertekad untuk memberikan para Misionaris Hati Kudus landasan yang kokoh di Watertown. Ia menjual Gereja Notre Dame yang lama dan membangunnya yang baru, sangat dekat dengan pastoran di Jalan Thompson. Kemudian, ia juga mulai mendirikan sebuah seminari kecil, tanpa berpikir untuk menjadikannya Sekolah Apostolik yang dimodelkan seperti di Prancis. Bagi Pastor Durin, tujuannya lebih untuk mengajar dan melatih kaum muda yang ingin menjadi imam diosesan atau Misionaris Hati Kudus. Pada tanggal 17 Oktober 1877, dua siswa diterima di tempat yang kemudian menjadi Kolese St. Joseph dan kemudian lagi, pada tahun 1891, menjadi Sekolah Apostolik St. Joseph. Akan tetapi Pastor Chevalier dan Pastor Jouët berbeda pendapat dengan Pastor Durin mengenai orientasi seminari ini. Terlebih lagi karena orang mulai menyadari bahwa, di seberang Atlantik, ada terlalu banyak “dari satu masalah ke masalah lain” di Watertown.

Sejak kepergian Pastor Chappel, Pastor Durin melihat komunitasnya bertambah jumlahnya dengan kedatangan Pastor Jean-Marie Neenan (yang meninggal tidak lama kemudian, pada 15 Januari 1879), Theodore Ariens, Ignatius-Mary Grom dan Bruder Charles Bono. Tetapi kesalahpahaman di antara para konfrater dan akumulasi kesulitan keuangan sedemikian rupa sehingga pada bulan Oktober 1879, Pastor Chevalier menganggap bijaksana untuk mengirim seorang pengunjung ke Watertown, yaitu Pastor Jean-Charles Marie (Thorey), guna coba menenangkan suasana dan mengembalikan persatuan dalam komunitas. Tak lama setelah kedatangannya dan beberapa kali pertemuan dengan dewan lokal diadakan, sebuah laporan yang ditandatangani oleh Pastor Jean-Charles Marie, Joseph Durin dan Théodore Ariens (yang beberapa minggu kemudian meninggalkan Tarekat dan masuk imam Keuskupan Hartford), sampai pada kesimpulan yang kurang menggairahkan. Hal-hal yang perlu dilakukan: 1) membubarkan Petite-Œuvre atau Karya Kecil; 2) supaya Issoudun memanggil kembali para imam dan anggota komunitas yang tidak sanggup mencari nafkah; 3) hanya menyisakan sejumlah orang yang sanggup untuk melayani umat (paroki) dan mampu menemukan solusi dengan terhormat; 4) tidak mengandalkan dukungan dari uskup mana pun di Amerika. Akan sia-sia sajalah menghabiskan uang untuk melakukan perjalanan mencari bantuan. Dan untuk mengakhiri laporan tersebut, empat resolusi yang jelas dan tepat muncul guna mengakhiri segalanya yang tampak ilusi: 1) Petite-Œuvre akan dibubarkan segera; 2) Pastor Durin akan menghubungi orang tua siswa; 3) Hanya dua siswa yang akan tersisa: Mathieu O’Hara, dari Chicago dan Pierre L’Espérance, dari Putnam, Connecticut; 4) Pastor Durin dan Bruder Benjamin Grom akan tetap tinggal di Watertown, sedangkan para Pastor dan Bruder lainnya akan kembali ke Eropa.

Oleh karena itu, tahun 1880 adalah tahun yang sangat sulit bagi Pastor Durin. Beliau tidak bisa menyembunyikan kekesalannya tentang sedikitnya kerja sama yang menurutnya telah diterimanya dari pihak berwenang Tarekat: “Kita selalu menolak untuk memberikan bantuan bagi karya di Amerika sebagaimana yang kita selalu memberikan bantuan untuk semua pekerjaan lain dari karya Tarekat… Anda ingin anak perempuan guna membantu ibunya… tetapi pertama-tama anak perempuan itu harus ada. Pernahkah ada perhatian untuk memberikannya dan menjaganya tetap ada?

Di Issoudun mereka telah menanggapi serius laporan musim gugur tahun 1879 tersebut. Oleh Dewan Umum pada tanggal 8 April 1880, diputuskan bahwa hanya urusan paroki yang akan tetap ada sebagai pekerjaan di Watertown. Segala sesuatu yang lain dihapus.

Pastor Durin kecewa dan marah. Dalam surat tertanggal 6 Mei 1880, kepada Pastor Jouët, ia dengan jujur ​​mengatakan semua yang ada di hatinya: “Hal-hal indah telah dilakukan… Yang utama belum dimulai… persatuan. Saya takut dengan pengalaman yang saya alami. Saya diberi beberapa religius untuk dibimbing. Saya tidak menemukan satu pun dari mereka yang mencintai Tarekat dan para atasannya. Kami sampaikan keadaan rasa pahit ini kepada Yang Mulia Pastor Superior kami, kepada Anda, kepada semua orang… kami tak akan melewatkan kesempatan yang baik ini untuk mengkritik… Jadi, mohon tanggapi situasi demikian…

Saya jamin bahwa inilah satu-satunya penyebab keputusasaan yang telah mencengkeram saya pada November [1879]. Kebaikan Yang Mulia Pastor Superior yang menahan saya  agar tetap berkarya di Watertown, tetapi saya dapat melihat dengan nyata bahwa bahtera ini sedang tenggelam. Mustahil untuk tetap berjalan dengan kru seperti demikian. Saya memecat staf saya… dan para pemberontak kini pergi ke tempat lain untuk mencari keberuntungan mereka. […]”

Namun, terlepas dari kata-katanya, Pastor Durin bertanggung jawab atas situasi yang sebagian besar dia sendiri gambarkan dalam suratnya. Sejak kedatangannya di Watertown, dia telah menjernihkan suasana di sekitarnya: Pastor Chappel, Ignace-Marie Grom dan Ariens, para calon imam Legros dan Métayer, dan akan segera menyusul Pastor Jean- Charles Marie dan Bruder Charles Bono, semuanya telah mengemasi tas mereka. Hanya Benjamin Grom yang tersisa, ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 7 Desember 1880 di Watertown. Sudah saatnya kini untuk memanggil kembali Pastor Joseph Durin ke Eropa, jika kita ingin menyelamatkan reruntuhan Watertown. Hal itu terjadi pada tahun 1881.

Facebook
WhatsApp
Email

Tinggalkan Balasan

Paus Leo XIV Tunjuk Mgr. Walter Erbi sebagai Duta Besar Vatikan untuk Indonesia

Paus Leo XIV secara resmi menunjuk Mgr. Walter Erbi sebagai Nunsius Apostolik (Duta Besar Takhta Suci) untuk Republik Indonesia. Pengangkatan tersebut diumumkan oleh Kantor Pers Takhta Suci pada Rabu (1/7/2026), sekaligus mengakhiri masa kekosongan jabatan setelah Mgr. Piero Pioppo dipindahkan menjadi Nunsius Apostolik untuk Kerajaan Spanyol pada November 2025.

Read More »

Kabar Duka: Pater Johanis Nangkoda Salaki MSC Tutup Usia, Gereja Kehilangan Imam yang Mengabdikan Hidup bagi Umat

Duka menyelimuti keluarga besar Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Keuskupan Manado, dan seluruh umat yang pernah dilayaninya. Pater Johanis Nangkoda Salaki MSC, atau yang akrab disapa P. Anis, telah berpulang ke rumah Bapa pada Rabu, 17 Juni 2026, pukul 05.02 WITA di RS Sentra Medika Manado. Ia wafat dalam usia 55 tahun setelah beberapa waktu menjalani perawatan medis akibat penyakit yang dideritanya.

Read More »

Tinggalkan Balasan