Pada tanggal 21 Oktober 1907, Pendiri kita tercinta, Pater Jules Chevalier, menghembuskan napas terakhirnya di Issoudun setelah mengabdikan seluruh eksistensi hidupnya untuk mewartakan kasih belas kasih Hati Kudus Yesus.
Pada tanggal 21 Oktober 1907, Pendiri kita tercinta, Pater Jules Chevalier, menghembuskan napas terakhirnya di Issoudun setelah mengabdikan seluruh eksistensi hidupnya untuk mewartakan kasih belas kasih Hati Kudus Yesus.
Mengapa seorang pendiri kongregasi dan rasul Hati Kudus yang legendaris menginginkan akhir hidup yang seakan-akan menghapus seluruh jejak kebesarannya sendiri?
Sejak penahbisannya pada tahun 1909, P. François Bourrin selalu mendukung usaha pembukaan Sekolah Apostolik di Beauport, wilayah Quebec, negara Kanada. Sebaliknya P. Barral tidak berpendapat demikian. Beauport seharusnya tetap saja menjadi tempat Novisiat.
Keberangkatan beberapa konfrater menuju wilayah bagian barat Kanada, pada tahun 1908, adalah bukti bahwa dahaga akan perluasan dan diversifikasi karya yang mendekam di hati banyak kaum religius muda, yang sekarang tinggal di Quebec maupun di Beauport, sama sekali tidak padam. Orang terus bermimpi tentang alam bebas yang mega luas. Terutama karena Gereja di Kanada sedang mengalami tahun-tahun perkembangan yang pesat.
Bagian III Jubileum 150 Tahun MSC di Amerika Serikat
Search Search 25 Maret 1881: Awal Misi Ad Gentes MSC Bagian Kedua (Lanjutan) Klik link dibawah ini untuk membaca bagian pertama KLIK DI SINI Posisi Pater Chevalier di Issoudun Pada […]
Setiap Tarekat atau Ordo hidup berdasarkan semangat (spirit) dan karisma Pendiri serta menerima suatu tugas perutusan (misi) melalui Gereja. Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa tugas perutusan adalah esensial bagi setiap lembaga hidup bakti:
Naskah Doa-Doa MisaPada Hari Raya Bunda Hati Kudusdisetujui oleh Vatikan pada 1972 DOWNLOAD DI SINI
Peristiwa Pentakosta sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang spektakuler: angin keras, lidah-lidah api, para rasul yang tiba-tiba berani. Tetapi P. Jules Chevalier mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam—apa yang mendahului Pentakosta.
Sering kali kita mengucapkan doa tanpa sungguh menyadari apa yang kita katakan. Doa menjadi kebiasaan, bukan lagi perjumpaan. Dalam teks ini, P. Jules Chevalier mengajak kita masuk lebih dalam ke dalam Ave Maria atau Doa Salam Maria—bukan sekadar sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai doa yang memiliki asal ilahi dan kekuatan pembentukan jiwa.